MALVIN SI TUKANG BECAK
PAHLAWAN
ANAK-ANAK YATIM DAN PIATU
Namanya Malvin, seorang yang
hidupnya miskin, Yang
pekerjaannya adalah tukang becak, ia memiliki dua orang anak laki-laki, Rafli
berumur 5 dan Julius berumur 12 tahun. Rafli kini duduk di kelas 1 Sekolah
Dasar dan Julius yang duduk di bangku SMP kelas 1. Istri Malvin sudah meninggal
sejak 4 tahun lalu, istri Malvin meninggal akibat mengidap penyakit kanker.
semenjak istrinya meninggal Malvinlah yang mengurusi kedua putranya itu dengan
penuh kasih sayang. Seluruh hidupnya dihabiskan di atas sadel becaknya,
mengayuh dan mengayuh untuk memberi jasanya kepada orang yang naik becaknya dan
untuk menghidupi anaknya. Malvin dalam pekerjaannya ia mengantarkan kemana saja pelanggannya menginginkannya,
dengan menerima imbalan uang sekedarnya.
Tubuhnya tidaklah perkasa.
Perawakannya malah tergolong kecil untuk ukuran becaknya atau orang-orang yang
menggunakan jasanya. Tetapi semangatnya luar biasa untuk bekerja. Mulai jam
enam pagi setelah melakukan rutinitasnya untuk bersekutu dengan Tuhan. Malvin melalang di jalanan, Malvin
biasanya ke kota untuk bekerja setelah mengantarkan anaknya ke sekolah. stelah
itu ia melanjutkan pekerjaannya, yaitu di atas becaknya untuk mengantar para
pelanggannya. dan setalah jam 1 siang Malvin akan kembali menjemput anaknya
Rafli dari sekolah, dan anaknya Rafli itu akan mengikuti ayahnya kemanapun
ayahnya pergi. Dan Malvin bersama anaknya Rafli akan mengakhiri kerja kerasnya
setelah jam delapan malam. sedangkan Julius akan pulang bersama tema-temannya.
Namun setelah pulang sekolah Julius harus melatih beberapa temannya untuk
merakit lampu tenaga surya yang dirakitnya sendiri.
Para pelanggannya sangat menyukai
Malvin, karena ia pribadi
yang ramah dan senyum tak pernah lekang dari wajahnya. Dan ia tak pernah
mematok berapa orang harus membayar jasanya. Namun karena kebaikan hatinya itu,
banyak orang yang menggunakan jasanya dengan membayar lebih. Mungkin karena
tidak tega, melihat bagaimana tubuh yang kecil malah tergolong ringkih itu
dengan nafas yang ngos-ngosan (apalagi kalau jalanan mulai menanjak) dan
keringat bercucuran berusaha mengayuh becak tuanya dan apalagi melihat anaknya
yang baru berumur 5 tahun itu yang bersama-sama dengan ayahnya yang berkerja.
Malvin
dan dua anaknya itu tinggal
disebuah gubuk reot yang nyaris sudah mau rubuh, di daerah yang tergolong
kumuh, bersama dengan banyak tukang becak, para penjual asongan dan pemulung
lainnya. Gubuk itupun hanyalah menggunakan tripleks untuk menjadi alas
dindingnya, tempat tidurnya hanyalah tikar bekas yang di pungutnya saat ia
bekerja, sehingga dapat menjadi tempat dimana ia biasa merebahkan tubuh
penatnya setelah sepanjang hari mengayuh becak bersama dengan anaknya. gubuk
itu bukan miliknya, karena ia menyewanya secara harian. Perlengkapan di gubuk
itu sangat sederhana. Hanya ada sebuah tungku api, yang biasnya dipakai untuk
memasak.
Gubuk itu hanya merupakan satu ruang
kecil dimana Malvin biasa
merebahkan tubuhnya beristirahat, di ruang itu juga ia menerima tamu yang butuh
bantuannya, di ruang itu juga ada sebuah kotak dari kardus yang berisi beberapa
baju tua miliknya dan sepasang baju sekolah anaknya yang sudah usang dan sebuah
selimut tipis tua yang telah bertambal-tambal. Ada dua buah piring seng comel
yang mungkin diambilnya dari tempat sampah dimana biasa ia makan, ada sebuah
tempat minum dari kaleng untuknya dan
sebuah gelas plastik yang di pungut dari tempat sampah untuk anaknya. Di pojok
ruangan tergantung sebuah lampu templok minyak tanah, lampu yang biasa
dinyalakan untuk menerangi kegelapan di gubuk tua itu bila malam telah
menjelang.
Malvin,
tinggal bersama anaknya itu di
gubuknya. Dan orang hanya tahu bahwa ia seorang pendatang. Tak ada yang tahu
apakah ia mempunyai sanak saudara sedarah. Tapi nampaknya ia tak pernah merasa
kesepian, ia sangat bahagia walau hanya dengan anaknya dan keadaan hidupnya
yang berkekurangan itu, banyak orang yang suka padanya, karena sifatnya yang
murah hati dan suka menolong. Tangannya sangat ringan menolong orang yang
membutuhkan bantuannya, dan itu dilakukannya dengan sukacita tanpa mengharapkan
pujian atau balasan.
Dari penghasilan yang diperolehnya
selama seharian mengayuh becaknya, sebenarnya ia mampu untuk mendapatkan
makanan dan minuman yang layak untuk dirinya dan anaknya serta bisa membeli
pakaian yang cukup bagus untuk menggantikan baju tuanya yang hanya sepasang dan
sepatu bututnya yang sudah tak layak dipakai karena telah robek dan mengganti
baju seragam anaknya yang telah usang. Namun dia tidak melakukannya, karena semua
uang hasil penghasilannya disumbangkannya kepada sebuah Yayasan sederhana yang
biasa mengurusi dan menyantuni sekitar 300 anak-anak yatim piatu miskin di
Jakarta.Yayasan ini bernama Yayasan Anugerah, Yayasan yang juga mendidik
anak-anak yatim piatu melalui sekolah yang ada.
Hatinya sangat tersentuh ketika,
suatu hari ia baru beristirahat setelah mengantar seorang pelanggannya. Ia
menyaksikan seorang anak lelaki kurus berusia sekitar 6 tahun yang yang tengah
menawarkan jasa untuk mengangkat barang seorang ibu yang baru berbelanja. Tubuh
kecil itu nampak sempoyongan mengendong beban berat di pundaknya, namun terus
dengan semangat melakukan tugasnya. Dan dengan kegembiraan yang sangat jelas
terpancar di mukanya, ia menyambut upah beberapa uang recehan yang diberikan
oleh ibu itu, dan dengan wajah menengadah ke langit bocah itu berguman, mungkin
ia mengucapkan syukur pada Tuhan untuk rezeki yang diperolehnya hari itu.
Beberapa kali ia perhatikan anak lelaki
kecil itu menolong ibu-ibu yang berbelanja, dan menerima upah uang recehan.
Kemudian ia lihat anak itu beranjak ke tempat sampah, mengais-ngais sampah, dan
waktu menemukan sepotong roti kecil yang kotor, ia bersihkan kotoran itu, dan
memasukkan roti itu ke mulutnya, menikmatinya dengan nikmat seolah itu makanan
dari surga.
Malvin berkata di dalam hatinya
“betapa bersyukurnya aku dan anak-anakku, Walaupun kami berkekurangan namun kami masih bisa
memakan makanan yang layak”. Hati Malvin
tercekat melihat itu, ia hampiri anak lelaki itu, dan berbagi makanannya
dengan anak lelaki itu. Ia heran, mengapa anak itu tak membeli makanan untuk
dirinya, padahal uang yang diperolehnya cukup banyak, dan tak akan habis bila
hanya untuk sekedar membeli makanan sederhana.
“Uang
yang saya dapat untuk makan adik-adik saya….,” jawab anak itu.
“Orang
tuamu dimana…?” tanya Malvin.
“Saya
tidak tahu…., ayah ibu saya pemulung…. Tapi sejak sebulan lalu setelah mereka
pergi memulung, mereka tidak pernah pulang lagi. Saya harus bekerja untuk
mencari makan untuk saya dan dua adik saya yang masih kecil…,” sahut anak itu.
Malvin minta anak itu mengantarnya
melihat ke dua adik lelakinya bernama Mike dan Stevan . Hati Malvin semakin
merintih melihat kedua adik Willem, ya itulah nama anak itu. Ketika Malvin
melihat dua anak laki-laki kurus berumur 5 tahun dan 4 tahun. Kedua anak laki-laki
itu nampak menyedihkan sekali, kurus, kotor dengan pakaian yang compang
camping. Pikir Malvin dalam hatinya sambil mengingat anaknya.
Malvin
tidak menyalahkan kalau tetangga
ketiga anak itu tidak terlalu perduli dengan situasi dan keadaan ketiga anak
kecil yang tidak berdaya itu, karena memang mereka juga terbelit dalam
kemiskinan yang sangat parah, jangankan untuk mengurus orang lain, mengurus diri
mereka sendiri dan keluarga mereka saja mereka kesulitan.
Malvin kemudian membawa ke tiga anak
itu ke Yayasan yang biasa menampung anak yatim piatu miskin di Jakarta. Pada
pengurus yayasan itu Malvin mengatakan
bahwa ia setiap hari ia akan mengantarkan semua penghasilannya untuk membantu
anak-anak miskin itu agar mereka mendapatkan makanan dan minuman yang layak dan
mendapatkan perawatan dan pendidikan yang layak.
Sejak saat itulah Malvin menghabiskan waktunya dengan
mengayuh becaknya mulai jam 6 pagi sampai jam 8 malam dengan penuh
semangat untuk mendapatkan uang. Dan seluruh uang penghasilannya setelah dipotong
sewa gubuknya dan membeli empat potong kue kismis untuk makan siangnya dan
anaknya dan sepotong kecil daging dan dua butir telur untuk makan malamnya,
seluruhnya ia sumbangkan ke Yayasan yatim piatu itu. Untuk anak-anak yang
kekurangan
Ia sangat bahagia sekali melakukan
semua itu, anak-anak Malvinpun sangat
senang karena, walaupun keadaan mereka untuk memenuhi kebutuhan hidup saja
tidak mampu tetapi mereka masih bisa melakukan kebaikan bagi orang lain
ditengah kesederhanaan dan keterbatasan mereka. Merupakan kemewahan luar biasa
bila ia beruntung mendapatkan pakaian rombeng yang masih cukup layak untuk
dikenakan walaupun yang di ambil dari tempat pembuangan sampah untuk dipakainya
dan anaknya. Hanya perlu menjahit sedikit yang tergoyak dengan kain yang
berbeda warna. Mhmm… tapi masih cukup bagus… gumamnya senang.
Malvin
mengayuh becak tuanya setiap harinya,
tanpa perduli dengan cuaca yang silih berganti, di tengah panas matahari yang sangat menyengat membakar tubuh kurusnya,
dan di tengah derasnya hujan yang mebasahi tubuhnya.
“Tidak apa-apa saya menderita, yang
penting biarlah anak-anakku bisa makan dan bersekolah dan anak-anak yayasan itu
dapat makan yang layak dan juga dapat bersekolah. Dan saya bahagia melakukan
semua ini…,” katanya bila orang-orang menanyakan mengapa ia mau berkorban
demikian besar untuk orang lain tanpa perduli dengan dirinya sendiri, bahkan anaknya
di korbankan untuk mengikutinya bekerja
setelah pulang sekolah.
12
TAHUN KEMUDIAN….
Hari demi hari, bulan demi bulan dan
tahun demi tahun, sehingga hampir 20 tahun Malvin menggenjot becaknya. Anak Malvin tumbuh dengan kasih sayang
seorang ayah yang juga memperdulikan anak-anak di Yayasan anak yatim piatu.
Ketika Malvin beranjak demi memperoleh uang untuk menambah donasinya pada
yayasan yatim piatu di Jakarta itu. Saat itu Malvin berusia 90 tahun, dia
mengantarkan tabungan terakhirnya sebesar Rp. 650.000. Yang disimpannya dengan
rapih dalam suatu kotak dan menyerahkannnya ke Yayasan yatim piatu itu.
Rafli
berumur 17 tahun dan kakanya Julius berumur 24 tahun.
Rafli dan Julius sangat pintar sehingga di
sekolah ia mendapatkan beasiswa dari pihak sekolah. Anak Malvin, Rafli dan
Julius beberapa kali menjuarai perlombaan di tingkat nasional maupun
internasional. sehingga dengan hadiah dari perlombaan itu anaknya Malvin, Rafli
dan Julius menyumbangkan sebagian untuk orang-orang miskin dan yayasan anak
yatim piatu dan untuk merenovasi gubuk tua yang setiap enam bulannya harus
diganti teripleksnya. Malvinpun sangat bahagia karena anaknya dapat membantu
orang-orang miskin dan juga dapat menyumbang bagi anak-anak yatim dan piatu di
Yayasan.
Anak-anak Malvin tumbuh dewasa dan
di hargai di tengah masyarakat, Rafli kini duduk di bangku SMA. Anak Malvin,
Rafli sangat pintar, dan Juliuspun sangat pintar sehingga dengan kemampuannya
merakit dan menghasilkan lampu tenaga surya, ia mendapat beasiswa dari salah
satu perusahaan di Inggris, karena kecerdasannya, yang mampu merakit dan
menghasilkan lampu tenaga surya, Dimana perusahan ini nantinya akan mengedarkan
lampu-lampu itu yang akan membantu masyarakat dunia yang belum terjamah listrik. Nama perusahaan itu adalah Greace.
Malvin
yang sudah tua dan sering sakit-sakitan itu, kini hanya tinggal tergeletak di
atas tempat tidurnya.
Malvin berkata kepada anaknya Rafli
“Nak, ayah sudah tidak dapat mengayuh becak lagi. Ayah tidak dapat menyumbang
lagi. Ini mungkin uang terakhir yang dapat ayah sumbangkan….,” katanya dengan
sendu.
“baiklah yah. tapi, ayah tidakkah
sebaiknya ayah menggunakan uang ini untuk keperluan kita? semakin hari harga
sembako di pasar semakin melonjak yah.!” Jawab Rafli sambil mengelus-elus dahi
ayahnya.
“Raf…ohk..ohk”
(Malvin perlahan menjawab sambil batuk) “kita hidup di dunia ini, hanya
sementara nak…okh..okh…jaaadiii jangan siaa..siakan hidup ini nak... Upah kita
besar di Surga….” “Baikah yah…kalo itu yang ayah mau”.
Pada keesokan harinya setelah Rafli
pulang sekolah, Didapati ayahnya jatuh didepan kotak penyimpanan uangnya.
“ayah…ayah…” Rafli cemas dan takut sesuatu terjadi pada ayahnya.
Rafli berlari keluar dan meminta
bantuan kepada tetangga. “Tolong…tolong…tolong ayah saya” Rafli berteriak
meminta tolong. “Raf..apa yang terjadi
Raf..” sahut tetangga yang berlari mendatangi Rafli. “Pak tolong ayah saya
pak...” “memangnya apa yang terjadi dengan ayahmu?” tanya tetangga itu.
“sudahlah pak, nati saya jelaskan,..tapi tolong dulu ayah saya pak..!” jawab
Rafli cemas. “ayo, kita bawa ayah kamu ke rumah sakit” sambil berlari menemui
Malvin. “ayo-ayo,, angkat ayahmu Raf, bawa ke mobil saya”. Mereka menggendong Malvin keluar dan
membawanya ke Rumah sakit.
Setiba
di Rumah Sakit Malvin langsung di bawa ke UGD, sedangkan Rafli langsung
menelepon kakaknya...
“Hallo
kak”
“Hallo
Raf, ada apa kok tumben sekali telepon kakak?”
“Kak..ayah
kak...”
“Ayah
kenapa Raf..? ayah baik-baik sajakan?”
“Kak..ayah
sekarang masuk Rumah Sakit kak..” sambil menceritakan apa yang terjadi.
“Oke,
kakak akan langsung terbang kembali ke Indonesia hari ini”. Jawab Julius,
kakaknya Rafli.
“Baiklah
kak”…sambungan telepon diputuskan.
Dokter
keluar dari ruang UGD.
“Dok,
bagaimana keadaan ayah saya dok?” tanya
Rafli.
“Kita
hanya bisa berdoa dek...ayah kamu sekarang dalam keadaan Koma”. Jawab dokter
dengan tenang agar Rafli tidak cemas.
Rafli
langsung menangis
“Dek,
kamu yang sabar ya... ayah kamu baik-baik saja kok..kita serahkan kepada Tuhan
saja...” Kata tetangga yang membantu Rafli membawa ayahnya ke Rumah sakit
“Pak...saya tidak mau kehilangan ayah saya…”
“
Tap ini mungkin sudah rencana Tuhan dek…ayah kamu pasti baik-baik saja
kok” kata tetangga itu sambil memeluk
Rafli.
“Makasih
ya pak”
Julius
yang telah tiba di bandara Soekarno Hatta langsung menelepon Rafli.
“Hello,
my little brother, is dad okay?” tanya Julius menggunakan bahasa Inggris.
“Ayah
masih dirawat kak”
“Baiklah,
kamu tungguin kakak disana, kakak baru tiba di Indonesia. Kakak akan segera
kesana, Kamu tolong kirim alamat Rumah Sakitnya”.
“Baik
kak”
sambungan
telepon diputuskan. Rafli langsung mengirim alamat Rumah Sakit itu menggunakan
pesan singkat WhatsApp.
3
Jam kemudian…
“Rafli
dimana ayah?” tanya Julius yang telah tiba di Rumah Sakit
“Kak..Ayah
kak…”
“Ayah baik-baik saja kan?” Rafli langsung
memeluk kakaknya itu.
“Ayah
masih dirawat di ruang UGD kak”.
Tiba-tiba
dilihat para suster dan dokter terburu-buru masuk ke ruang UGD.
“Suster,
apa yang terjadi?...Ayah saya baik-baik sajakan?” tanya Julius kepada seorang
Suster yang hendak masuk ke ruang UGD.
“Kami
akan berusaha semaksimal mungkin, Kita hanya berserah kepada Tuhan Yang Maha
Kuasa” jawab suter itu.
Julius
dan Rafli langsung duduk seakan tak berdaya.
“Oh
Tuhan, tolong selamatkan ayahku” doa
Julius dalam hatinya.
Seorang
dokter keluar dari ruang UGD.
“Keluarganya
bapak Malvin?” tanya dokter.
“
Ia, kami anaknya. apa yang terjadi dengan ayah saya dokter?.” jawab Julius
“
Kami telah berusaha semaksimal mungkin, namun Tuhan berkehendak lain, Bapak
Malvin…telah meninggal dunia” Julius dan
Rafli langsung berlari masuk ke dalam ruang UGD dan menangisi ayah mereka.
Akhirnya Malvin wafat dan di semayamkan, di Jakarta pada usia 93 tahun, ia
meninggal dalam kemiskinan. Sekalipun begitu, dia telah menyumbangkan
disepanjang hidupnya kurang-lebih Rp.455.000.000.00 yang dia berikan kepada
Yayasan yatim piatu dan sekolah-sekolah di Jakarta untuk menolong kurang lebih
3 juta, anak-anak miskin.
Setelah beberapa bulan, Rafli sedang membersihkan rumah mereka, Ia melihat
kotak simpanan ayahnya. ketika itu Rafli langsung membersihkannya. Dan
mengingat akan pesan ayahnya itu. Rafli membawa kotak itu kepada kakaknya, Dan
mengatakan bahwa sebelum ayah mereka meninggal, Ayah mereka berpesan untuk
memberikan hasil tabungan terakhir ayah mereka untuk di sumbangkan kepada
yayasan anak yatim piatu yang ada di Jakarta.
Saat
itu, Julius dan Rafli langsung mengantarkan kotak penyimpanan uang itu
di Yayasan tersebut. dan setibanya disana, Julius melihat kondisi bangunan
Yayasan ini buruk. sehingga Juliuspun ingin merenovasi bangunan yayasan
tersebut. Setelah 2 tahun direnovasi, keadaan yayasan itupun bertambah indah.
Kini yayasan itu mengganti nama Yayasan itu menjdi “Yayasan Anugerah Malvin”
sebagai penghargaan kepada Malvin.
Mulai sejak itu banyak orang datang
untuk membantu anak-anak yatim dan piatu. Bahkan dijalanan anak-anak yang
dulunya tidak bersekolah kini diperhatikan oleh pemerintah.