Rabu, 26 September 2018

Cerita inspirasi



MALVIN  SI TUKANG BECAK
PAHLAWAN ANAK-ANAK YATIM DAN PIATU


            Namanya Malvin, seorang yang hidupnya miskin, Yang pekerjaannya adalah tukang becak, ia memiliki dua orang anak laki-laki, Rafli berumur 5 dan Julius berumur 12 tahun. Rafli kini duduk di kelas 1 Sekolah Dasar dan Julius yang duduk di bangku SMP kelas 1. Istri Malvin sudah meninggal sejak 4 tahun lalu, istri Malvin meninggal akibat mengidap penyakit kanker. semenjak istrinya meninggal Malvinlah yang mengurusi kedua putranya itu dengan penuh kasih sayang. Seluruh hidupnya dihabiskan di atas sadel becaknya, mengayuh dan mengayuh untuk memberi jasanya kepada orang yang naik becaknya dan untuk menghidupi anaknya. Malvin dalam pekerjaannya  ia mengantarkan kemana saja pelanggannya menginginkannya, dengan menerima imbalan uang sekedarnya.

            Tubuhnya tidaklah perkasa. Perawakannya malah tergolong kecil untuk ukuran becaknya atau orang-orang yang menggunakan jasanya. Tetapi semangatnya luar biasa untuk bekerja. Mulai jam enam pagi setelah melakukan rutinitasnya untuk bersekutu dengan Tuhan. Malvin melalang di jalanan, Malvin biasanya ke kota untuk bekerja setelah mengantarkan anaknya ke sekolah. stelah itu ia melanjutkan pekerjaannya, yaitu di atas becaknya untuk mengantar para pelanggannya. dan setalah jam 1 siang Malvin akan kembali menjemput anaknya Rafli dari sekolah, dan anaknya Rafli itu akan mengikuti ayahnya kemanapun ayahnya pergi. Dan Malvin bersama anaknya Rafli akan mengakhiri kerja kerasnya setelah jam delapan malam. sedangkan Julius akan pulang bersama tema-temannya. Namun setelah pulang sekolah Julius harus melatih beberapa temannya untuk merakit lampu tenaga surya yang dirakitnya sendiri.

            Para pelanggannya sangat menyukai Malvin, karena ia pribadi yang ramah dan senyum tak pernah lekang dari wajahnya. Dan ia tak pernah mematok berapa orang harus membayar jasanya. Namun karena kebaikan hatinya itu, banyak orang yang menggunakan jasanya dengan membayar lebih. Mungkin karena tidak tega, melihat bagaimana tubuh yang kecil malah tergolong ringkih itu dengan nafas yang ngos-ngosan (apalagi kalau jalanan mulai menanjak) dan keringat bercucuran berusaha mengayuh becak tuanya dan apalagi melihat anaknya yang baru berumur 5 tahun itu yang bersama-sama dengan ayahnya yang berkerja.

            Malvin dan dua anaknya itu tinggal disebuah gubuk reot yang nyaris sudah mau rubuh, di daerah yang tergolong kumuh, bersama dengan banyak tukang becak, para penjual asongan dan pemulung lainnya. Gubuk itupun hanyalah menggunakan tripleks untuk menjadi alas dindingnya, tempat tidurnya hanyalah tikar bekas yang di pungutnya saat ia bekerja, sehingga dapat menjadi tempat dimana ia biasa merebahkan tubuh penatnya setelah sepanjang hari mengayuh becak bersama dengan anaknya. gubuk itu bukan miliknya, karena ia menyewanya secara harian. Perlengkapan di gubuk itu sangat sederhana. Hanya ada sebuah tungku api, yang biasnya dipakai untuk memasak.

            Gubuk itu hanya merupakan satu ruang kecil dimana Malvin biasa merebahkan tubuhnya beristirahat, di ruang itu juga ia menerima tamu yang butuh bantuannya, di ruang itu juga ada sebuah kotak dari kardus yang berisi beberapa baju tua miliknya dan sepasang baju sekolah anaknya yang sudah usang dan sebuah selimut tipis tua yang telah bertambal-tambal. Ada dua buah piring seng comel yang mungkin diambilnya dari tempat sampah dimana biasa ia makan, ada sebuah tempat minum dari kaleng  untuknya dan sebuah gelas plastik yang di pungut dari tempat sampah untuk anaknya. Di pojok ruangan tergantung sebuah lampu templok minyak tanah, lampu yang biasa dinyalakan untuk menerangi kegelapan di gubuk tua itu bila malam telah menjelang.

            Malvin, tinggal bersama anaknya itu di gubuknya. Dan orang hanya tahu bahwa ia seorang pendatang. Tak ada yang tahu apakah ia mempunyai sanak saudara sedarah. Tapi nampaknya ia tak pernah merasa kesepian, ia sangat bahagia walau hanya dengan anaknya dan keadaan hidupnya yang berkekurangan itu, banyak orang yang suka padanya, karena sifatnya yang murah hati dan suka menolong. Tangannya sangat ringan menolong orang yang membutuhkan bantuannya, dan itu dilakukannya dengan sukacita tanpa mengharapkan pujian atau balasan.

            Dari penghasilan yang diperolehnya selama seharian mengayuh becaknya, sebenarnya ia mampu untuk mendapatkan makanan dan minuman yang layak untuk dirinya dan anaknya serta bisa membeli pakaian yang cukup bagus untuk menggantikan baju tuanya yang hanya sepasang dan sepatu bututnya yang sudah tak layak dipakai karena telah robek dan mengganti baju seragam anaknya yang telah usang. Namun dia tidak melakukannya, karena semua uang hasil penghasilannya disumbangkannya kepada sebuah Yayasan sederhana yang biasa mengurusi dan menyantuni sekitar 300 anak-anak yatim piatu miskin di Jakarta.Yayasan ini bernama Yayasan Anugerah, Yayasan yang juga mendidik anak-anak yatim piatu melalui sekolah yang ada.

            Hatinya sangat tersentuh ketika, suatu hari ia baru beristirahat setelah mengantar seorang pelanggannya. Ia menyaksikan seorang anak lelaki kurus berusia sekitar 6 tahun yang yang tengah menawarkan jasa untuk mengangkat barang seorang ibu yang baru berbelanja. Tubuh kecil itu nampak sempoyongan mengendong beban berat di pundaknya, namun terus dengan semangat melakukan tugasnya. Dan dengan kegembiraan yang sangat jelas terpancar di mukanya, ia menyambut upah beberapa uang recehan yang diberikan oleh ibu itu, dan dengan wajah menengadah ke langit bocah itu berguman, mungkin ia mengucapkan syukur pada Tuhan untuk rezeki yang diperolehnya hari itu.

            Beberapa kali ia perhatikan anak lelaki kecil itu menolong ibu-ibu yang berbelanja, dan menerima upah uang recehan. Kemudian ia lihat anak itu beranjak ke tempat sampah, mengais-ngais sampah, dan waktu menemukan sepotong roti kecil yang kotor, ia bersihkan kotoran itu, dan memasukkan roti itu ke mulutnya, menikmatinya dengan nikmat seolah itu makanan dari surga.

            Malvin berkata di dalam hatinya “betapa bersyukurnya aku dan anak-anakku, Walaupun  kami berkekurangan namun kami masih bisa memakan makanan yang layak”. Hati Malvin tercekat melihat itu, ia hampiri anak lelaki itu, dan berbagi makanannya dengan anak lelaki itu. Ia heran, mengapa anak itu tak membeli makanan untuk dirinya, padahal uang yang diperolehnya cukup banyak, dan tak akan habis bila hanya untuk sekedar membeli makanan sederhana.

“Uang yang saya dapat untuk makan adik-adik saya….,” jawab anak itu.

“Orang tuamu dimana…?” tanya Malvin.
“Saya tidak tahu…., ayah ibu saya pemulung…. Tapi sejak sebulan lalu setelah mereka pergi memulung, mereka tidak pernah pulang lagi. Saya harus bekerja untuk mencari makan untuk saya dan dua adik saya yang masih kecil…,” sahut anak itu.

            Malvin minta anak itu mengantarnya melihat ke dua adik lelakinya bernama Mike dan Stevan . Hati Malvin semakin merintih melihat kedua adik Willem, ya itulah nama anak itu. Ketika Malvin melihat dua anak laki-laki kurus berumur 5 tahun dan 4 tahun. Kedua anak laki-laki itu nampak menyedihkan sekali, kurus, kotor dengan pakaian yang compang camping. Pikir Malvin dalam hatinya sambil mengingat anaknya.

            Malvin tidak menyalahkan kalau tetangga ketiga anak itu tidak terlalu perduli dengan situasi dan keadaan ketiga anak kecil yang tidak berdaya itu, karena memang mereka juga terbelit dalam kemiskinan yang sangat parah, jangankan untuk mengurus orang lain, mengurus diri mereka sendiri dan keluarga mereka saja mereka kesulitan.

            Malvin kemudian membawa ke tiga anak itu ke Yayasan yang biasa menampung anak yatim piatu miskin di Jakarta. Pada pengurus yayasan itu Malvin mengatakan bahwa ia setiap hari ia akan mengantarkan semua penghasilannya untuk membantu anak-anak miskin itu agar mereka mendapatkan makanan dan minuman yang layak dan mendapatkan perawatan dan pendidikan yang layak.

            Sejak saat itulah Malvin menghabiskan waktunya dengan mengayuh becaknya mulai jam 6 pagi sampai jam 8 malam dengan penuh semangat untuk mendapatkan uang. Dan seluruh uang penghasilannya setelah dipotong sewa gubuknya dan membeli empat potong kue kismis untuk makan siangnya dan anaknya dan sepotong kecil daging dan dua butir telur untuk makan malamnya, seluruhnya ia sumbangkan ke Yayasan yatim piatu itu. Untuk anak-anak yang kekurangan

            Ia sangat bahagia sekali melakukan semua itu,  anak-anak Malvinpun sangat senang karena, walaupun keadaan mereka untuk memenuhi kebutuhan hidup saja tidak mampu tetapi mereka masih bisa melakukan kebaikan bagi orang lain ditengah kesederhanaan dan keterbatasan mereka. Merupakan kemewahan luar biasa bila ia beruntung mendapatkan pakaian rombeng yang masih cukup layak untuk dikenakan walaupun yang di ambil dari tempat pembuangan sampah untuk dipakainya dan anaknya. Hanya perlu menjahit sedikit yang tergoyak dengan kain yang berbeda warna. Mhmm… tapi masih cukup bagus… gumamnya senang.

            Malvin mengayuh becak tuanya setiap harinya, tanpa perduli dengan cuaca yang silih berganti, di tengah  panas matahari  yang sangat menyengat membakar tubuh kurusnya, dan di tengah derasnya hujan yang mebasahi tubuhnya.

            “Tidak apa-apa saya menderita, yang penting biarlah anak-anakku bisa makan dan bersekolah dan anak-anak yayasan itu dapat makan yang layak dan juga dapat bersekolah. Dan saya bahagia melakukan semua ini…,” katanya bila orang-orang menanyakan mengapa ia mau berkorban demikian besar untuk orang lain tanpa perduli dengan dirinya sendiri, bahkan anaknya di korbankan untuk  mengikutinya bekerja setelah pulang sekolah.  



12 TAHUN KEMUDIAN….

            Hari demi hari, bulan demi bulan dan tahun demi tahun, sehingga hampir 20 tahun Malvin menggenjot becaknya. Anak Malvin tumbuh dengan kasih sayang seorang ayah yang juga memperdulikan anak-anak di Yayasan anak yatim piatu. Ketika Malvin beranjak demi memperoleh uang untuk menambah donasinya pada yayasan yatim piatu di Jakarta itu. Saat itu Malvin berusia 90 tahun, dia mengantarkan tabungan terakhirnya sebesar Rp. 650.000. Yang disimpannya dengan rapih dalam suatu kotak dan menyerahkannnya ke Yayasan yatim piatu itu.
Rafli berumur 17 tahun dan kakanya Julius berumur 24 tahun.
             Rafli dan Julius sangat pintar sehingga di sekolah ia mendapatkan beasiswa dari pihak sekolah. Anak Malvin, Rafli dan Julius beberapa kali menjuarai perlombaan di tingkat nasional maupun internasional. sehingga dengan hadiah dari perlombaan itu anaknya Malvin, Rafli dan Julius menyumbangkan sebagian untuk orang-orang miskin dan yayasan anak yatim piatu dan untuk merenovasi gubuk tua yang setiap enam bulannya harus diganti teripleksnya. Malvinpun sangat bahagia karena anaknya dapat membantu orang-orang miskin dan juga dapat menyumbang bagi anak-anak yatim dan piatu di Yayasan.

            Anak-anak Malvin tumbuh dewasa dan di hargai di tengah masyarakat, Rafli kini duduk di bangku SMA. Anak Malvin, Rafli sangat pintar, dan Juliuspun sangat pintar sehingga dengan kemampuannya merakit dan menghasilkan lampu tenaga surya, ia mendapat beasiswa dari salah satu perusahaan di Inggris, karena kecerdasannya, yang mampu merakit dan menghasilkan lampu tenaga surya, Dimana perusahan ini nantinya akan mengedarkan lampu-lampu itu yang akan membantu masyarakat dunia yang belum terjamah listrik. Nama perusahaan itu adalah Greace.
Malvin yang sudah tua dan sering sakit-sakitan itu, kini hanya tinggal tergeletak di atas tempat tidurnya.

            Malvin berkata kepada anaknya Rafli “Nak, ayah sudah tidak dapat mengayuh becak lagi. Ayah tidak dapat menyumbang lagi. Ini mungkin uang terakhir yang dapat ayah sumbangkan….,” katanya dengan sendu.
            “baiklah yah. tapi, ayah tidakkah sebaiknya ayah menggunakan uang ini untuk keperluan kita? semakin hari harga sembako di pasar semakin melonjak yah.!” Jawab Rafli sambil mengelus-elus dahi ayahnya.
“Raf…ohk..ohk” (Malvin perlahan menjawab sambil batuk) “kita hidup di dunia ini, hanya sementara nak…okh..okh…jaaadiii jangan siaa..siakan hidup ini nak... Upah kita besar di Surga….” “Baikah yah…kalo itu yang ayah mau”.

            Pada keesokan harinya setelah Rafli pulang sekolah, Didapati ayahnya jatuh didepan kotak penyimpanan uangnya. “ayah…ayah…” Rafli cemas dan takut sesuatu terjadi pada ayahnya.
            Rafli berlari keluar dan meminta bantuan kepada tetangga. “Tolong…tolong…tolong ayah saya” Rafli berteriak meminta tolong.  “Raf..apa yang terjadi Raf..” sahut tetangga yang berlari mendatangi Rafli. “Pak tolong ayah saya pak...” “memangnya apa yang terjadi dengan ayahmu?” tanya tetangga itu. “sudahlah pak, nati saya jelaskan,..tapi tolong dulu ayah saya pak..!” jawab Rafli cemas. “ayo, kita bawa ayah kamu ke rumah sakit” sambil berlari menemui Malvin. “ayo-ayo,, angkat ayahmu Raf, bawa ke mobil saya”.  Mereka menggendong Malvin keluar dan membawanya ke Rumah sakit.
Setiba di Rumah Sakit Malvin langsung di bawa ke UGD, sedangkan Rafli langsung menelepon kakaknya...
“Hallo kak”
“Hallo Raf, ada apa kok tumben sekali telepon kakak?”
“Kak..ayah kak...”
“Ayah kenapa Raf..? ayah baik-baik sajakan?”
“Kak..ayah sekarang masuk Rumah Sakit kak..” sambil menceritakan apa yang terjadi.
“Oke, kakak akan langsung terbang kembali ke Indonesia hari ini”.  Jawab Julius,  kakaknya Rafli.
“Baiklah kak”…sambungan telepon diputuskan.

Dokter keluar dari ruang UGD.

“Dok, bagaimana keadaan ayah saya dok?”  tanya Rafli.
“Kita hanya bisa berdoa dek...ayah kamu sekarang dalam keadaan Koma”. Jawab dokter dengan tenang agar Rafli tidak cemas.

Rafli langsung menangis

“Dek, kamu yang sabar ya... ayah kamu baik-baik saja kok..kita serahkan kepada Tuhan saja...” Kata tetangga yang membantu Rafli membawa ayahnya ke Rumah sakit
 “Pak...saya tidak mau kehilangan ayah saya…”
“ Tap ini mungkin sudah rencana Tuhan dek…ayah kamu pasti baik-baik saja kok”  kata tetangga itu sambil memeluk Rafli.
“Makasih ya pak”

Julius yang telah tiba di bandara Soekarno Hatta langsung menelepon Rafli.
“Hello, my little brother, is dad okay?” tanya Julius menggunakan bahasa Inggris.
“Ayah masih dirawat kak”
“Baiklah, kamu tungguin kakak disana, kakak baru tiba di Indonesia. Kakak akan segera kesana, Kamu tolong kirim alamat Rumah Sakitnya”.
“Baik kak” 
sambungan telepon diputuskan. Rafli langsung mengirim alamat Rumah Sakit itu menggunakan pesan singkat WhatsApp.

3 Jam kemudian…

“Rafli dimana ayah?” tanya Julius yang telah tiba di Rumah Sakit
“Kak..Ayah kak…”
 “Ayah baik-baik saja kan?” Rafli langsung memeluk kakaknya itu.
“Ayah masih dirawat di ruang UGD kak”.

Tiba-tiba dilihat para suster dan dokter terburu-buru masuk ke ruang UGD.
“Suster, apa yang terjadi?...Ayah saya baik-baik sajakan?” tanya Julius kepada seorang Suster yang hendak masuk ke ruang UGD.
“Kami akan berusaha semaksimal mungkin, Kita hanya berserah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa” jawab suter itu.

Julius dan Rafli langsung duduk seakan tak berdaya.
“Oh Tuhan, tolong selamatkan ayahku”  doa Julius dalam hatinya.

Seorang dokter keluar dari ruang UGD.

“Keluarganya bapak Malvin?” tanya dokter.
“ Ia, kami anaknya. apa yang terjadi dengan ayah saya dokter?.” jawab Julius
“ Kami telah berusaha semaksimal mungkin, namun Tuhan berkehendak lain, Bapak Malvin…telah meninggal dunia”  Julius dan Rafli langsung berlari masuk ke dalam ruang UGD dan menangisi ayah mereka.

            Akhirnya Malvin wafat dan di semayamkan, di Jakarta pada usia 93 tahun, ia meninggal dalam kemiskinan. Sekalipun begitu, dia telah menyumbangkan disepanjang hidupnya kurang-lebih Rp.455.000.000.00 yang dia berikan kepada Yayasan yatim piatu dan sekolah-sekolah di Jakarta untuk menolong kurang lebih 3 juta, anak-anak miskin. Setelah beberapa bulan, Rafli sedang membersihkan rumah mereka, Ia melihat kotak simpanan ayahnya. ketika itu Rafli langsung membersihkannya. Dan mengingat akan pesan ayahnya itu. Rafli membawa kotak itu kepada kakaknya, Dan mengatakan bahwa sebelum ayah mereka meninggal, Ayah mereka berpesan untuk memberikan hasil tabungan terakhir ayah mereka untuk di sumbangkan kepada yayasan anak yatim piatu yang ada di Jakarta.
            Saat  itu, Julius dan Rafli langsung mengantarkan kotak penyimpanan uang itu di Yayasan tersebut. dan setibanya disana, Julius melihat kondisi bangunan Yayasan ini buruk. sehingga Juliuspun ingin merenovasi bangunan yayasan tersebut. Setelah 2 tahun direnovasi, keadaan yayasan itupun bertambah indah. Kini yayasan itu mengganti nama Yayasan itu menjdi “Yayasan Anugerah Malvin” sebagai penghargaan kepada Malvin.
            Mulai sejak itu banyak orang datang untuk membantu anak-anak yatim dan piatu. Bahkan dijalanan anak-anak yang dulunya tidak bersekolah kini diperhatikan oleh pemerintah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar