Minggu, 02 Desember 2018


“PANGGILAN SEORANG GURU PAK”

Ini adalah kisah nyata yang tiba-tiba terbayang ketika suatu malam yang larut, sebuah kisah yang mengharukan bagi seorang perantau. dan ia menyadari bahwa ini semua anugerah yang diberikan Tuhan dalam hidupnya. Walaupun begitu banyak ujian dan tantangan yang ia hadapi, namun ia percaya semuanya akan indah pada waktunya .

Hans Prawira Anggara Taliak, itulah nama lengkapnya, biasanya ia dipanggil “Hans” ia adalah anak sulung dari Demianus Taliak (ayahnya) dan Sri Taliak (ibunya). Lahir di Sidorejo, 10 Mei 2001. Terlahir dari keluarga yang sederhana namun harmonis. Sejak kecil ia bermimpi menjadi seorang pendeta. Mereka tinggal disebuah desa yang cukup ramai di daerah  kepulauan Babar, Maluku Barat Daya. Ia mempunyai tiga orang adik, dua orang pria, adik yang pertama berumur 8 tahun, adik yang kedau berumur 7 tahun dan satu adik wanita yang baru berumur 11 bulan. Dia adalah seorang siswa SMP yang  bersekolah disalah satu sekolah negeri dan dia juga adalah seorang yang dipercayakan untuk melayani di gereja mereka.
Ayahnya sudah meninggal sejak empat tahun lalu tepatnya pada tanggal 29 Maret 2014. Sejak saat itu ia hilang harapan, putus asa, setiap malam sejak ayahnya meninggal, ia selalu menangis dikamar tanpa suara, karena merasa kehilangan akan sosok yang ia sangat sayangi. Bagi Hans, ayahnya adalah seorang yang sangat ia segani dan ia cintai. Ayahnya meninggal karena kecelakaan, saat itu sebelum ayahnya meninggal, ayahnya seharian tidak tinggal dirumah karena dikebun seharian, sedangkan pada sore harinya akan ibadah keluarga dirumah mereka. Pada hari itu karena ayahnya tidak ada dirumah, Hans mempersiapkan segala sesuatu untuk ibadah pada sore hari. Ia membersihkan rumah, halaman dan mempersiapkan apa saja  yang dibutuhkan dalam peribadahan itu. Sedangkan ibunya sibuk memasak untuk jamuan kasih nantinya seusai ibadah. Didalam hati Hans ia merasa begitu kesal karena tidak ada yang membantunya untuk mempersiapkan ibadah keluarga itu. Tiba saatnya satu jam ibadah akan mulai, Hans mulai mengurusi adik-adiknya untuk mandi supaya mereka beribadah, sedangkan ayahnya belum kunjung datang. Seusai ia mengurusi adik-adiknya mandi, tidak lama kemudian ayahnya datang dengan keadaan kotor setelah seharian di kebun. Saat itu Hans merasa ada yang aneh dengan penampilan dan gerak-gerik ayahnya. Hans melihat tidak biasanya kalau ayahnya pulang dari kebun langsung menggendong dan mencium adik perempuannya yang bungsu berulang-ulang kali, setelah itu bukannya mandi dan bersiap-siap untuk beribadah malahan ayahnya tidur dengan keadaan tengkurap di tempat tidur diluar. Akhirnya ibunya Hans membangunkan ayahnya dan menyarankan agar segera mandi karena akan ibadah dirumah mereka.
Tidak lama kemudian terdengar suara sapaan dari depan rumah “Syaloom..” ternyata sudah ada jemaat yang datang untuk beribadah. Tidak lama kemudian satu per satu jemaat mulai berdatangan untuk beribadah. Setelah bapak  dan ibu gembala tiba, akhirnya ibadahpun dimulai, namun karena kursi untuk jemaat kekurangan akhirnya Hans dan adik serta ayahnya meminjam kursi dirumah tetangga mereka. Setelah itu setelah ibadahnya usai kira-kira pukul 18: 30 WIT, jemaatpun mulai satu per satu kembali kerumah mereka  masing-masing, Hans pun  mulai membersihkan kembali rumahnya dan mengembalikan kursi milik tetangga yang dipinjam. Namun ayah Hans pergi kerumah salah seorang keluarga mereka. Saat Hans dan ibunya serta adik-adiknya sedang menonton TV kira-kira pukul 20:00 WIT, tiba-tiba datanglah seorang tetangga berlari dengan rasa panik dan takut sambil memanggil nama ibunya Hans, membawa informasi bahwa ayah Hans kesetrum karena memegang mic dan jatuh pingsan. Ibu Hans tanpa melihat keadaan sekitar ia berlari ke tempat  kejadian.
Hans tidak dapat pergi ke tempat kejadian karena adik bungsunya yang sudah terlebih dahulu tidur sehingga ia harus menjaganya, Hans tidak dapat berbuat apa-apa, saat itu Hans hanya berdoa dengan memohon kepada Tuhan supaya tidak terjadi sesuatu yang buruk terjadi pada ayahnya. tidak lama kemudian terdengar sirene ambulans berbunyi dari kejauahan, ternyata ambulans itu sedang datang ke tempat kejadian dimana ayahnya Hans kesetrum. Tidak lama kemudian ada seorang tetangga yang datang dan menjaga adiknya Hans, sehingga Hans pun berlari ke rumah sakit, rumah sakit itu tidak terlalu jauh dari rumahnya Hans, kurang lebih 1 Km dari  rumahnya.
Setibanya dirumah sakit tedengar suara tangisan dari begitu banyak orang termasuk ibunya, ketika Hans masuk langsung ibunya memeluk Hans sambil menangis dan mengatakan kepada Hans bahwa ayahnya sudah tiada. Ketika Hans mendengar kata itu, Hans pun menangis dan tidak menerima atas apa yang terjadi pada saat itu, menurut Hans itu tidak mungkin terjadi karena ayanhya sehat-sehat saja, tidak mungkin hanya dengan memegang mic dapat merenggut nyawa ayahnya. Setelah itu tidak lama datanglah seorang dokter untuk memberitahukan kepada ibunya Hans bahwa dari hasil otopsi tidak ada sakit penyakit yang membuat hal ini terjadi, misalnya penyakit yang dicurigai adalah penyakit jantung,karena tidak ditemukan gejala-gejala penyakit jantung tersebut. Setelah itu dari pihak keluarga meminta agar tubuh ayah Hans dapat dibawa pulang kembali kerumah. Tidak lama kemudian datanglah beberapa petugas rumah sakit datang dan membawa tubuh ayahnya Hans masuk kedalam ambulans dan diantar pulang ke rumah mereka, setelah tiba dirumah begitu banyak orang yang mengerumuni rumah mereka. Setelah itu mereka membawa masuk tubuh ayah Hans kedalam rumah dan dimasukan kekamar.
Saat  itu Hans belum makan, sehingga datanglah bapak gembala mereka dan seorang  saudara sepupu perempuan Hans yang datang untuk membujuk Hans makan agar ia tidak sakit, namun Hans menolaknya. Saat itu Hans hanya ingin dekat ayahnya yang sudah tiada itu, hanya air mata yang ia keluarkan, namun dalam hatinya sangat marah kepada Tuhan. Sejak kejadian itu Hans begitu marah dan mempersalahkan Tuhan atas kejadian yang menimpa ayahnya itu, dia berkata dalam hatinya “kenapa harus ayahnya, kenapa bukan dia saja”. Ayah Hans meninggal disaat diamana ulang tahun pertama dari adik bungsunya sudah sangat dekat, namun ayahnya sudah tiada. Bahkan karena rasa kecewanya itu, dalam hatinya ia berkata bahwa, ia tidak mau lagi melayani digereja mereka. Namun setelah dua minggu ada seorang pendeta yang datang dari kota Ambon untuk memberi pengajaran tentang tata cara ibadah yang benar. Saat itu Hans hadir dan usai dari beribadahan itu, pendeta ini mengadakan altar call, Hans pun maju, dia menyampaikan apa yang merupakan keluh kesah dalam hatinya.
Saat didoakan Hans merasa bahwa ada seseorang yang berbisik dalam hatinya mengatakan “Aku  akan memakai kamu”. Hans meresponi akan  suara itu Hans berkata “Tuhan jika itu Engkau yang berkata-kata kepadaku, pakailah aku sesuai kehendak-Mu”. Mulai saat itu Hans berkomitmen bahwa ia ingin agar hidupnya menjadi seorang hamba Tuhan. Dan Hans mohon ampun akan dosa yang telah ia perbuat yakni mempersalahkan Tuhan. Hans memulai  kehidupannya tanpa sosok seorang ayah. Hans kemudian mulai perlahan mendekatkan dirinya kepada Tuhan.
Hans biasanya bagun dipagi hari pukul 5: 00 WIT, sebelum ia melakukan aktivitasnya ia biasanya berdoa, bersyukur kepada Tuhan dan meminta perlindungan dari Tuhan. Setelah itu Hans membantu ibunya didapur, biasanya dia hanya mengisi air di bak mandi untuk adik-adiknya nanti mandi dan kesekolah, setelah itu ia sarapan pagi dan mandi, sehabis Hans mandi ia langsung berangkat kesekolah. Hans bersekolah di sekolah negeri di desanya. Disekolah teman-temannya datang menghampiri dia dan menguatkan dia supaya Hans tidak menyerah dan putus asa.
 Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, Hans melakukan aktivitasnya seperti biasa. Suatu hari masuklah seorang guru dan bertanya “siapa disisni yang punya cita-cita ? tolong sampaikan kepada saya” mulailah satu per satu siswa menjawabnya. Namun ketika  sampai kepada giliran Hans dimulutnya berkata bahwa “cita-cita saya ingin menjadi pendeta” namun dalam pikirannya ia sedang memikirkan bagaimana masa cita-citanya akan tercapai kalau orang tuanya tidak mampu menyekolahkannya lagi? Ditambah hanya ibunya seorang diri. Hans memang memiliki keluarga besar, namun Hans dan ibunya tidak mau membebani keluarga mereka yang lain.  Sejak saat guru itu bertanya Hans memikirkan apa selanjutnya yang akan dilakukannya nanti ketika ia sudah tamat SMA. Setiap malam ia berdoa kepada Tuhan agar membuka jalan baginya. Setelah dia duduk dikelas 2 SMA, datanglah seorang ibu gembala dari kota Ambon yang menawarkan kepada Hans, apakah dia mau setelah tamat SMA dia mau bersekolah di kota Ambon dengan mengambil jurusan kesehatan ?. namun Hans masih ragu-ragu untuk menjawab, karena bukan itu yang dia cita-citakan. Setelah melewati beberapa bulan didengar kabar bahwa pemerintah sedang membuka sekolah pertambangan minyak gratis bagi siswa yang berprestasi, Hans ketika mendengar kabar itu ia tertarik untuk mengikuti tes sekolah itu nanti sesudah ia tamat. Namun pada saat Ujian Nasional sudah dekat, Hans kembali ditawarkan oleh gembala mereka, tentang sekolah gratis milik bapak Jakob Nahuwai yang berada di Lampung.
Hans pun kembali  diperhadapkan dengan pilihan yang menurut dia begitu berat untuk mengambil keputusan ini. Suatu malam ketika Hans hendak akan tidur, Hans tidak dapat tidur dengan pulas karena didalam hatinya timbul pertentangan untuk mengambil keputusan ini. Bahkan satu malam suntuk ia tidak dapat tidur. Yang ada di dalam hati Hans hanyalah nama Sekolah Tinggi Mawar Saron Lampung. Sehingga ia mengambil keputusan pada malam itu untuk nantinya ia bersekolah di  Sekolah Tinggi Mawar Saron Lampung, setelah ia tamat.
Namun, mungkin karena kepergiaan ayahnya dan frustasi, prestasi Hans menurun dari saat itu. Pada kelas 1 SMA, Hans meraih juara pertama dikelas mereka, lalu menurun pada kelas 2 SMA, Hans meraih juara kedua dikelas mereka, dan juara ketiga pada kelas 3 SMA. Prestasi itu terus menurun sampai kepada Ujian Nasional, Disaat Hans menerima hasil ujiannya  dimana  Hans tidak lulus  untuk mata pelajaran Bahasa Inggris, karena nilainya hanya 5. 0. Rasa kecewa akan nilainya itu, Hans tidak mau melanjutkan sekolah  yang lebih tinggi lagi. Namun ibunya terus memberi dukungan kepadanya, ibunya menyemangati Hans dengan Firman Tuhan yang terambil dari Kitab Yeremia 29 :11-12 yang mengatakan “Sebab, Aku mengetahui rencana-rencana yang Aku miliki bagi kamu,’ firman TUHAN, ‘rencana-rencana untuk kesejahteraan dan bukan untuk kemalanganmu, untuk memberimu masa depan dan pengharapan. Kamu akan berseru kepada-Ku dan datang dan berdoa kepada-Ku, dan Aku akan mendengarkan kamu”. Bahkan seringkali  Hans mendengar doa-doa yang dilantunkan ibunya disaat akan tidur, pasti namanya disebut. Doa itu meminta kepada Tuhan agar memberikan masa depan yang gemilang bagi anak-anaknya. Hans ketika mendengar doa-doa itu, air matanya selalu mengalir. Hans sangat bersyukur memiliki orang tua yang sangat memperhatikan dirinya.
Ibu Hans seringkali menasihatinya bahwa semua yang dilakukan Tuhan, terkadang kita manusia tidak menerimanya, namun semua yang dilakukan Tuhan itu indah pada waktunya.  Ibu Hans mengajarkan kepada Hans dan adik-adiknya bahwa hidup ini hanya sementara, lakukanlah yang terbaik bukan untuk dilihat orang, tetapi satu kerinduan yang harus ditanam didalam hati untuk melayani Tuhan sebagai rasa hormat kita kepadaNya, bukan hanya digereja tetapi dimanapun kita berada. Akhirnya semangat Hans lambat laun kembali tumbuh didalam hatinya. Hans merasa ibunya begitu tangguh menghadapi semua ujian, masalah, yang diberikan Tuhan dalam kehidupan mereka.
Pada bulan Mei tepatnya pada hari ulang tahunnya, Hans tidak menyangka akan ada perayaan yang begitu meriah untuk dirinya. Saat ulang tahunnya, teman-temannya mempersiapkan segala  sesuatu untuk merayakan ulang tahunnya. Begitu pula para pelayan dan pemuda gereja, mempersiapkan hari ulang tahun Hans tanpa sepengetahuan Hans. Namun ibunya sydah mengetahuinya. Saat pada malam hari, ibu Hans mengajak Hans untuk berbelanja di Mal. Sedang  dirumah mereka, teman-teman Hans dan para pelayan sedang mempersiapkan kejutang untuk Hans. Ketika Hans dan ibunya pulang dari Mal, ketika satpam membukakan pintu pagar mereka, Hans merasa ada sesuatu yang berbeda karena kelihatan suasana dirumah begitu sepi dan lampu yang dipadamkan.
Didalam  pikiran Hans memikirkan, mengapa ibunya tidak mengucapkan selamat ulang tahun pada dirinya. Ketika Hans membukakan pintu rumah mereka tiba-tiba, tepung terigu mengguyuri seluruh tubuhnya, lampu dinyalakan dan yang dilihatnya adalah semua teman-temannya, dan para pelayan di gereja mereka. Sambil ketawa terbahak-bahak karena melihat Hans yang telah mandi tepung terigu mereka menyanyikan lagu “selamat ulang tahun” baginya. Hans begitu merasa sangat bahagia, karena sejak dari umur 7 tahun Hans tidak lagi merayakan ulang tahunnya sampai ia berulang tahun yang ke-16 barulah ia merayakannya lagi. Setelah itu mereka menjabat tangan Hans dan mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Ucapan syukur tak putus-putus didalam hatinya, hanya tawa dan air mata kebahagiaan yang dia keluarkan saat itu. Hans bersyukur atas kebaikan Tuhan sehingga ia bisa bertambah setahun usia. Lalu mereka mengucap syukur pada saat itu bersama-sama.
Seminggu kemudian Hans harus keluar kota untuk mengurus seluruh keperluannya untuk nanti mempermudah dia saat kuliah. Disaat dia mempersiapkan seluruh keperluannya  ia diperhadapkan dengan satu masalah, dikarenakan didaerah mereka hanya jalur tranportasi laut yang paling sangat memungkinkan untuk melakukan perjalanan karena dari kampungnya menuju kota kabupaten harus menggunakan kapal laut dan memakan satu hari perjalanan. Ditambah lagi dimana disaat dia akan kembali kekampung halamannya, uang untuk transportasinya kurang. Hans pada saat itu hanya memiliki Rp. 100. 000 ditangannya, sedangkan perjalanan kembali ke kampungnya memakan waktu satu hari, dan uang yang ia miliki tidak cukup untuk tiket dan uang makannya saat nantinnya. Ia hanya bisa berdoa kepada Tuhan agar membuka jalan  keluarnya. Tiba-tiba teleponnya berdering, Hans mengangkat telepon itu, ternyata ibunya yang meneleponnya, Hans memberitahu apa kendala yang terjadi. Ibu Hans langsung memberitahu Hans bahwa disana ada keluarga mereka, jadi dia bisa pergi kesana, ternyata sebelum Hans kerumah keluarga yang dimaksud ada seorang  bapak yang datang ia mengaku kalau ia adalah keluarga mereka. Hans pertama-tama tidak mempercayai karena dia takut. Tidak lama kemudian telepon Hans berdering kembali , ternyata itu adalaah ibu Hans, ia memberitahu kalau nanti ada seorang  bapak yang datang menjemput Hans.
Kemudian Hans pun  mempercayai bapak ini, dan kemudian Hans dibawa kerumah bapak ini. Setiba mereka disana diajak untuk makan, seusai makan bapak ini memberikan sejumlah uang untuk Hans, ia memberikan uang kepada Hans Rp.300.000 Hans begitu berterima kasih kepada bapak ini. Kemudian Hans diantarakan kembali ke pelabuhan untuk segera berangkat.
Ketika Hans berada dalam kapal itu, saat hendak petugas kapal berkeliling untuk menagih tiket kapal, ternyata mereka tidak meminta kepada Hans. Uang yang seharusnya ia gunakan untuk membayar tiket tersebut utuh dalam kantongnya. Hans sangat bersyukur kepada Tuhan, setibanya di kampung halamannya ia beristirahat satu minggu, kemudian ia mempersiapkan seluruh kebutuhannya saat nantinya digunakan di perkuliahan. Setelah seminggu Hans bersama bapak gembalanya berangkat dari kampung halamannya menuju kota Saumlaki. Setiba dikota Saumlaki, mereka membeli tiket pesawat untuk berangkat menuju kota Ambon. Namun ketika saat membeli tiket pesaawat ternyata harga tiket saat itu sedang melonjak, harga tiket pada saat itu berkisar antara Rp. 1. 800.000 - 2. 000.000. Hans tidak memiliki uang sebanyak itu, namun Hans berkeputusan untuk berdoa kepada Tuhan, setelah satu minggu  di kota Saumlaki, ternyata ada seorang ibu yang memberikan bantuan kepada, ia mentransferkan uang di rekening Hans dengan jumlah yang besar. Ibu itu memntransfer sebesar Rp. 4.000.000, Hans sangat bersyukur kepada Tuhan atas berkat yang dia sediakan kepadanya. Setelah menerima uang itu, Hans memberikan uang itu kepada bapak gembalanya. Tiket pun dibeli dan akhirnya keesokan harinya mereka berangkat dari kota Saumlaki menuju kota Ambon. Sebelum masuk kedalam ruang chek in, ibu Hans berpesan kepadanya agar ia selalu mengandalkan Tuhan didalam kehidupannya dan jangan pernah menyerah untuk menggapai impiannya, setelah itu  Hans masuk kedalam ruang chek in dan kemudian setelah menunggu beberapa saat, pemberitahuan dari pihak bandara untuk para penumpang bersiap-siap menuju pesawat. Kurang lebih 1 jam perjalanan akhirnya tibalah mereka di kota Ambon, ibu kota provinsi Maluku. Mereka naik taksi dari bandara Pattimura menuju kerumah.
Setelah seminggu dikota Ambon, kini Hans harus melanjutkan perjalanannya menuju kota Jakarta, Hans merasa sangat bersyukur karena uang tiket dari kota Ambon menuju kota Jakarta sudah dibiayai oleh donatur kampus tersebut. Akhirnya pada 30 juni 2018 Hans berangkat dari kota Ambon menuju Jakarta bersama-sama dengan 5 orang teman lainnya yang juga berasal dari Maluku. Kurang lebih 3 jam perjalanan tibalah rombongan team Maluku di Jakarta, ketika mereka tiba di Jakarta mereka tidak langsung menuju kampus, karena ada pemberitahuan bahwa masih menunggu team-team lainnya dari beberapa Provinsi lainnya. Tidak lama kemudian datanglah team dari Nuas Tenggara Timur, kemudian disusul dari Nias, Papua, Sulawesi, dan juga Manado. Mereka semua kelihatan belum karab satu sama lainnya, mereka kemudian  diantar ke sebuah gereja yang merupakan donatur kampus yang akan Hans dan teman-temannya bersekolah disitu. Setiba di gereja itu mereka kemudian diantar menuju satu ruangan kecil, biasanya ruangan itu disebut ruang Mandarin. Mereka kemudian bertemu dengan pemimpin dari kampus dan gereja itu, beliau bernama bpk. Jacob. Nahuwai. Beliau memberikan nasihat, semangat untuk mereka semua agar mereka menyadari akan panggilan mereka. Setelah satu miggu dikota Jakarta mereka diberitahukan bahwa akan menuju ke Lampung yang merupakan letak kampus itu berada. Hans pertama berpikir bahwa perjalanan menuju ke Lampung ini hanyalah satu ataupun dua jam saja, ternyata setelah diberitahukan, ternyata bahwa perjalanan menuju ke Lampung itu memakan waktu hingga 12 jam. Hari itu hari minggu, perjalanan rombongan calon mahasiswa ini berangkat dari Jakarta menuju Lampung pada pukul 21:00 WIB. Setelah kira-kira 1 atau 2 jam mereka tiba di pelabuhan Merak menuju pelabuhan Bakhueni, untuk menyeberang menggunakan kapal ferry. Hans dan para rombongan lainnya mungkin karena merasa kelelahan, mereka tidur didalam bis, setelah fajar menyingsing mereka sadar dan ketika melihat keluar jendela, pemandangan yang indah dengan tumbuhan singkong yang mendominan. Mereka semua terkejut  teman yang satu mulai berkata kepada teman yang lainya, “kok keadaannya seperti ini? ini kelihatannya seperti menuju kesebuah kampung” Hans hanya terdiam disandaran tempat duduk bis sambil melihat pemandangan yang belum ia lihat, karena dalam hati Hans sedang membayangkan keadaan  kampus yang terletak di daerah seperti ini. Setelah beberapa jam kemudian rombongan calon mahasiswa ini tiba di kampus yang mereka tujui. Nama kampus itu adalah Sekolah Tinggi Teologia Mawar Saron, Lampung. Setelah itu mereka diantarkan menuju ruang aula yang dimiliki kampus itu, mereka berdoa dan setelah itu menuju ruang makan dan mereka semua makan siang.
Setelah beberapa saat kemudian, datanglah beberapa tentara dengan berpakaian lengkap. Ternyata merekalah yang nantinya akan melatih dan membina para calon mahasiswa dalam kegiatan bela negara. Setelah usai upacara pembukaan kegiatan bela negara, Tiba-tiba mereka langsung menyuruh para calon  mahasiswa ini push up, karena dengan nada suara yang keras dan kasar semuanya mengikuti perintah dari para tentara ini. Kegiatan bela negara pun dimulai dan diisi dengan kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk disiplin, dan saling menghargai satu sama lain. Setelah satu minggu kegiatan bela negara, mereka semua dipersiapakan untuk  kuliah nantinya pada hari selasa.
Ketika perkuliahan mulai dijalankan, Hans masih belum bisa membabaur dengan teman-teman lainnya yang berasal dari berbagai macam daerah ini. Setelah hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, Hans pun mulai bisa menikmati keadaan di kampus ini. Hans mulai menyadari perlahan-lahan maksud Tuhan menempatkan dirinya di kampus itu. Semangat Hans pun mulai membara didalam hatinya ia berkomitmen bahwa “apapun yang terjadi padanya ia akan berusaha untuk menjadi lebih baik dan terbaik dan menyerahkan semua kehidupannya pada tangan Tuhan dan memiliki kerinduan untuk tetap menyenangkan hati Tuhan. Seperti yang dikatakan didalam Mazmur 1:2-3 “tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.
Hans begitu mensyukuri akan anugerah yang Tuhan berikan padanya, kini Hans sedang berjuang dalam pendidikannya di Sekolah Tinggi Teologia Mawar Saron, Lampung. Ia bercita-cita setelah dia tamat dari STT itu, ia kembali ke daerahnya dengan membawa sebuah perubahan dan menjadi dampak yang baik bagi masyarkat didaerahnnya dan terus memilki kerinduan untuk menyenangkan hati Tuhan dan melayani-Nya sebagai pengabdianya kepada Tuhan, seperti yang dikatakan dalam 2 Petrus 5: 2 “Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah, dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri”.

“DARI CERITA INI MENCERITAKAN SEORANG ANAK YANG DIPERHADAPKAN DENGAN DENGAN BERBAGAI RINTANGAN, TANTANGAN DAN UJIAN. DAN DISAAT DIA PUTUS ASA, HILANG HARAPAN, TANGAN TUHAN KEMBALI MENGANGKAT DIA SECARA PERLAHAN-LAHAN UNTUK PEKERJAAN-NYA DITENGAH-TENGAH DUNIA INI.
Pesan dari cerita ini:
“HAL-HAL BESAR selalu itu dimulai DARI DALAM.
TUHAN tidak pernah menjanjikan bahwa langit itu selalu biru, Bunga selalu mekar, dan Mentari selalu bersinar.Tapi ketahuilah bahwa DIA selalu memberi pelangi di setiap badai, Senyum di setiap air mata, Berkah di setiap ujian, dan jawaban di setiap doa. Jangan pernah menyerah, Terus berjuanglah ,“Life is so beautiful”.
•Hidup bukanlah suatu tujuan, melainkan perjalanan maka nikmatilah.
•Hidup adalah tantangan, hadapilah.
•Hidup adalah anugerah, terimalah.
•Hidup adalah pertandingan, menangkanlah.
•Hidup adalah tugas, selesaikanlah.
•Hidup adalah cita-cita, capailah.
•Hidup adalah misteri, singkapkanlah.
•Hidup adalah kesempatan, ambillah.
•Hidup adalah keindahan,bersyukurlah.
·         Mazmur 55:23
“Serahkanlah kuatirmu kepada TUHAN, maka Ia akan memelihara engkau! Tidak untuk selama-lamanya dibiarkan-Nya orang benar itu goyah.
·         Matius 6:25-32
"Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya? Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal, namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannyapun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya? Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu.”

“THANK YOU, GOD BLESS YOU”

Rabu, 26 September 2018

Cerita inspirasi



MALVIN  SI TUKANG BECAK
PAHLAWAN ANAK-ANAK YATIM DAN PIATU


            Namanya Malvin, seorang yang hidupnya miskin, Yang pekerjaannya adalah tukang becak, ia memiliki dua orang anak laki-laki, Rafli berumur 5 dan Julius berumur 12 tahun. Rafli kini duduk di kelas 1 Sekolah Dasar dan Julius yang duduk di bangku SMP kelas 1. Istri Malvin sudah meninggal sejak 4 tahun lalu, istri Malvin meninggal akibat mengidap penyakit kanker. semenjak istrinya meninggal Malvinlah yang mengurusi kedua putranya itu dengan penuh kasih sayang. Seluruh hidupnya dihabiskan di atas sadel becaknya, mengayuh dan mengayuh untuk memberi jasanya kepada orang yang naik becaknya dan untuk menghidupi anaknya. Malvin dalam pekerjaannya  ia mengantarkan kemana saja pelanggannya menginginkannya, dengan menerima imbalan uang sekedarnya.

            Tubuhnya tidaklah perkasa. Perawakannya malah tergolong kecil untuk ukuran becaknya atau orang-orang yang menggunakan jasanya. Tetapi semangatnya luar biasa untuk bekerja. Mulai jam enam pagi setelah melakukan rutinitasnya untuk bersekutu dengan Tuhan. Malvin melalang di jalanan, Malvin biasanya ke kota untuk bekerja setelah mengantarkan anaknya ke sekolah. stelah itu ia melanjutkan pekerjaannya, yaitu di atas becaknya untuk mengantar para pelanggannya. dan setalah jam 1 siang Malvin akan kembali menjemput anaknya Rafli dari sekolah, dan anaknya Rafli itu akan mengikuti ayahnya kemanapun ayahnya pergi. Dan Malvin bersama anaknya Rafli akan mengakhiri kerja kerasnya setelah jam delapan malam. sedangkan Julius akan pulang bersama tema-temannya. Namun setelah pulang sekolah Julius harus melatih beberapa temannya untuk merakit lampu tenaga surya yang dirakitnya sendiri.

            Para pelanggannya sangat menyukai Malvin, karena ia pribadi yang ramah dan senyum tak pernah lekang dari wajahnya. Dan ia tak pernah mematok berapa orang harus membayar jasanya. Namun karena kebaikan hatinya itu, banyak orang yang menggunakan jasanya dengan membayar lebih. Mungkin karena tidak tega, melihat bagaimana tubuh yang kecil malah tergolong ringkih itu dengan nafas yang ngos-ngosan (apalagi kalau jalanan mulai menanjak) dan keringat bercucuran berusaha mengayuh becak tuanya dan apalagi melihat anaknya yang baru berumur 5 tahun itu yang bersama-sama dengan ayahnya yang berkerja.

            Malvin dan dua anaknya itu tinggal disebuah gubuk reot yang nyaris sudah mau rubuh, di daerah yang tergolong kumuh, bersama dengan banyak tukang becak, para penjual asongan dan pemulung lainnya. Gubuk itupun hanyalah menggunakan tripleks untuk menjadi alas dindingnya, tempat tidurnya hanyalah tikar bekas yang di pungutnya saat ia bekerja, sehingga dapat menjadi tempat dimana ia biasa merebahkan tubuh penatnya setelah sepanjang hari mengayuh becak bersama dengan anaknya. gubuk itu bukan miliknya, karena ia menyewanya secara harian. Perlengkapan di gubuk itu sangat sederhana. Hanya ada sebuah tungku api, yang biasnya dipakai untuk memasak.

            Gubuk itu hanya merupakan satu ruang kecil dimana Malvin biasa merebahkan tubuhnya beristirahat, di ruang itu juga ia menerima tamu yang butuh bantuannya, di ruang itu juga ada sebuah kotak dari kardus yang berisi beberapa baju tua miliknya dan sepasang baju sekolah anaknya yang sudah usang dan sebuah selimut tipis tua yang telah bertambal-tambal. Ada dua buah piring seng comel yang mungkin diambilnya dari tempat sampah dimana biasa ia makan, ada sebuah tempat minum dari kaleng  untuknya dan sebuah gelas plastik yang di pungut dari tempat sampah untuk anaknya. Di pojok ruangan tergantung sebuah lampu templok minyak tanah, lampu yang biasa dinyalakan untuk menerangi kegelapan di gubuk tua itu bila malam telah menjelang.

            Malvin, tinggal bersama anaknya itu di gubuknya. Dan orang hanya tahu bahwa ia seorang pendatang. Tak ada yang tahu apakah ia mempunyai sanak saudara sedarah. Tapi nampaknya ia tak pernah merasa kesepian, ia sangat bahagia walau hanya dengan anaknya dan keadaan hidupnya yang berkekurangan itu, banyak orang yang suka padanya, karena sifatnya yang murah hati dan suka menolong. Tangannya sangat ringan menolong orang yang membutuhkan bantuannya, dan itu dilakukannya dengan sukacita tanpa mengharapkan pujian atau balasan.

            Dari penghasilan yang diperolehnya selama seharian mengayuh becaknya, sebenarnya ia mampu untuk mendapatkan makanan dan minuman yang layak untuk dirinya dan anaknya serta bisa membeli pakaian yang cukup bagus untuk menggantikan baju tuanya yang hanya sepasang dan sepatu bututnya yang sudah tak layak dipakai karena telah robek dan mengganti baju seragam anaknya yang telah usang. Namun dia tidak melakukannya, karena semua uang hasil penghasilannya disumbangkannya kepada sebuah Yayasan sederhana yang biasa mengurusi dan menyantuni sekitar 300 anak-anak yatim piatu miskin di Jakarta.Yayasan ini bernama Yayasan Anugerah, Yayasan yang juga mendidik anak-anak yatim piatu melalui sekolah yang ada.

            Hatinya sangat tersentuh ketika, suatu hari ia baru beristirahat setelah mengantar seorang pelanggannya. Ia menyaksikan seorang anak lelaki kurus berusia sekitar 6 tahun yang yang tengah menawarkan jasa untuk mengangkat barang seorang ibu yang baru berbelanja. Tubuh kecil itu nampak sempoyongan mengendong beban berat di pundaknya, namun terus dengan semangat melakukan tugasnya. Dan dengan kegembiraan yang sangat jelas terpancar di mukanya, ia menyambut upah beberapa uang recehan yang diberikan oleh ibu itu, dan dengan wajah menengadah ke langit bocah itu berguman, mungkin ia mengucapkan syukur pada Tuhan untuk rezeki yang diperolehnya hari itu.

            Beberapa kali ia perhatikan anak lelaki kecil itu menolong ibu-ibu yang berbelanja, dan menerima upah uang recehan. Kemudian ia lihat anak itu beranjak ke tempat sampah, mengais-ngais sampah, dan waktu menemukan sepotong roti kecil yang kotor, ia bersihkan kotoran itu, dan memasukkan roti itu ke mulutnya, menikmatinya dengan nikmat seolah itu makanan dari surga.

            Malvin berkata di dalam hatinya “betapa bersyukurnya aku dan anak-anakku, Walaupun  kami berkekurangan namun kami masih bisa memakan makanan yang layak”. Hati Malvin tercekat melihat itu, ia hampiri anak lelaki itu, dan berbagi makanannya dengan anak lelaki itu. Ia heran, mengapa anak itu tak membeli makanan untuk dirinya, padahal uang yang diperolehnya cukup banyak, dan tak akan habis bila hanya untuk sekedar membeli makanan sederhana.

“Uang yang saya dapat untuk makan adik-adik saya….,” jawab anak itu.

“Orang tuamu dimana…?” tanya Malvin.
“Saya tidak tahu…., ayah ibu saya pemulung…. Tapi sejak sebulan lalu setelah mereka pergi memulung, mereka tidak pernah pulang lagi. Saya harus bekerja untuk mencari makan untuk saya dan dua adik saya yang masih kecil…,” sahut anak itu.

            Malvin minta anak itu mengantarnya melihat ke dua adik lelakinya bernama Mike dan Stevan . Hati Malvin semakin merintih melihat kedua adik Willem, ya itulah nama anak itu. Ketika Malvin melihat dua anak laki-laki kurus berumur 5 tahun dan 4 tahun. Kedua anak laki-laki itu nampak menyedihkan sekali, kurus, kotor dengan pakaian yang compang camping. Pikir Malvin dalam hatinya sambil mengingat anaknya.

            Malvin tidak menyalahkan kalau tetangga ketiga anak itu tidak terlalu perduli dengan situasi dan keadaan ketiga anak kecil yang tidak berdaya itu, karena memang mereka juga terbelit dalam kemiskinan yang sangat parah, jangankan untuk mengurus orang lain, mengurus diri mereka sendiri dan keluarga mereka saja mereka kesulitan.

            Malvin kemudian membawa ke tiga anak itu ke Yayasan yang biasa menampung anak yatim piatu miskin di Jakarta. Pada pengurus yayasan itu Malvin mengatakan bahwa ia setiap hari ia akan mengantarkan semua penghasilannya untuk membantu anak-anak miskin itu agar mereka mendapatkan makanan dan minuman yang layak dan mendapatkan perawatan dan pendidikan yang layak.

            Sejak saat itulah Malvin menghabiskan waktunya dengan mengayuh becaknya mulai jam 6 pagi sampai jam 8 malam dengan penuh semangat untuk mendapatkan uang. Dan seluruh uang penghasilannya setelah dipotong sewa gubuknya dan membeli empat potong kue kismis untuk makan siangnya dan anaknya dan sepotong kecil daging dan dua butir telur untuk makan malamnya, seluruhnya ia sumbangkan ke Yayasan yatim piatu itu. Untuk anak-anak yang kekurangan

            Ia sangat bahagia sekali melakukan semua itu,  anak-anak Malvinpun sangat senang karena, walaupun keadaan mereka untuk memenuhi kebutuhan hidup saja tidak mampu tetapi mereka masih bisa melakukan kebaikan bagi orang lain ditengah kesederhanaan dan keterbatasan mereka. Merupakan kemewahan luar biasa bila ia beruntung mendapatkan pakaian rombeng yang masih cukup layak untuk dikenakan walaupun yang di ambil dari tempat pembuangan sampah untuk dipakainya dan anaknya. Hanya perlu menjahit sedikit yang tergoyak dengan kain yang berbeda warna. Mhmm… tapi masih cukup bagus… gumamnya senang.

            Malvin mengayuh becak tuanya setiap harinya, tanpa perduli dengan cuaca yang silih berganti, di tengah  panas matahari  yang sangat menyengat membakar tubuh kurusnya, dan di tengah derasnya hujan yang mebasahi tubuhnya.

            “Tidak apa-apa saya menderita, yang penting biarlah anak-anakku bisa makan dan bersekolah dan anak-anak yayasan itu dapat makan yang layak dan juga dapat bersekolah. Dan saya bahagia melakukan semua ini…,” katanya bila orang-orang menanyakan mengapa ia mau berkorban demikian besar untuk orang lain tanpa perduli dengan dirinya sendiri, bahkan anaknya di korbankan untuk  mengikutinya bekerja setelah pulang sekolah.  



12 TAHUN KEMUDIAN….

            Hari demi hari, bulan demi bulan dan tahun demi tahun, sehingga hampir 20 tahun Malvin menggenjot becaknya. Anak Malvin tumbuh dengan kasih sayang seorang ayah yang juga memperdulikan anak-anak di Yayasan anak yatim piatu. Ketika Malvin beranjak demi memperoleh uang untuk menambah donasinya pada yayasan yatim piatu di Jakarta itu. Saat itu Malvin berusia 90 tahun, dia mengantarkan tabungan terakhirnya sebesar Rp. 650.000. Yang disimpannya dengan rapih dalam suatu kotak dan menyerahkannnya ke Yayasan yatim piatu itu.
Rafli berumur 17 tahun dan kakanya Julius berumur 24 tahun.
             Rafli dan Julius sangat pintar sehingga di sekolah ia mendapatkan beasiswa dari pihak sekolah. Anak Malvin, Rafli dan Julius beberapa kali menjuarai perlombaan di tingkat nasional maupun internasional. sehingga dengan hadiah dari perlombaan itu anaknya Malvin, Rafli dan Julius menyumbangkan sebagian untuk orang-orang miskin dan yayasan anak yatim piatu dan untuk merenovasi gubuk tua yang setiap enam bulannya harus diganti teripleksnya. Malvinpun sangat bahagia karena anaknya dapat membantu orang-orang miskin dan juga dapat menyumbang bagi anak-anak yatim dan piatu di Yayasan.

            Anak-anak Malvin tumbuh dewasa dan di hargai di tengah masyarakat, Rafli kini duduk di bangku SMA. Anak Malvin, Rafli sangat pintar, dan Juliuspun sangat pintar sehingga dengan kemampuannya merakit dan menghasilkan lampu tenaga surya, ia mendapat beasiswa dari salah satu perusahaan di Inggris, karena kecerdasannya, yang mampu merakit dan menghasilkan lampu tenaga surya, Dimana perusahan ini nantinya akan mengedarkan lampu-lampu itu yang akan membantu masyarakat dunia yang belum terjamah listrik. Nama perusahaan itu adalah Greace.
Malvin yang sudah tua dan sering sakit-sakitan itu, kini hanya tinggal tergeletak di atas tempat tidurnya.

            Malvin berkata kepada anaknya Rafli “Nak, ayah sudah tidak dapat mengayuh becak lagi. Ayah tidak dapat menyumbang lagi. Ini mungkin uang terakhir yang dapat ayah sumbangkan….,” katanya dengan sendu.
            “baiklah yah. tapi, ayah tidakkah sebaiknya ayah menggunakan uang ini untuk keperluan kita? semakin hari harga sembako di pasar semakin melonjak yah.!” Jawab Rafli sambil mengelus-elus dahi ayahnya.
“Raf…ohk..ohk” (Malvin perlahan menjawab sambil batuk) “kita hidup di dunia ini, hanya sementara nak…okh..okh…jaaadiii jangan siaa..siakan hidup ini nak... Upah kita besar di Surga….” “Baikah yah…kalo itu yang ayah mau”.

            Pada keesokan harinya setelah Rafli pulang sekolah, Didapati ayahnya jatuh didepan kotak penyimpanan uangnya. “ayah…ayah…” Rafli cemas dan takut sesuatu terjadi pada ayahnya.
            Rafli berlari keluar dan meminta bantuan kepada tetangga. “Tolong…tolong…tolong ayah saya” Rafli berteriak meminta tolong.  “Raf..apa yang terjadi Raf..” sahut tetangga yang berlari mendatangi Rafli. “Pak tolong ayah saya pak...” “memangnya apa yang terjadi dengan ayahmu?” tanya tetangga itu. “sudahlah pak, nati saya jelaskan,..tapi tolong dulu ayah saya pak..!” jawab Rafli cemas. “ayo, kita bawa ayah kamu ke rumah sakit” sambil berlari menemui Malvin. “ayo-ayo,, angkat ayahmu Raf, bawa ke mobil saya”.  Mereka menggendong Malvin keluar dan membawanya ke Rumah sakit.
Setiba di Rumah Sakit Malvin langsung di bawa ke UGD, sedangkan Rafli langsung menelepon kakaknya...
“Hallo kak”
“Hallo Raf, ada apa kok tumben sekali telepon kakak?”
“Kak..ayah kak...”
“Ayah kenapa Raf..? ayah baik-baik sajakan?”
“Kak..ayah sekarang masuk Rumah Sakit kak..” sambil menceritakan apa yang terjadi.
“Oke, kakak akan langsung terbang kembali ke Indonesia hari ini”.  Jawab Julius,  kakaknya Rafli.
“Baiklah kak”…sambungan telepon diputuskan.

Dokter keluar dari ruang UGD.

“Dok, bagaimana keadaan ayah saya dok?”  tanya Rafli.
“Kita hanya bisa berdoa dek...ayah kamu sekarang dalam keadaan Koma”. Jawab dokter dengan tenang agar Rafli tidak cemas.

Rafli langsung menangis

“Dek, kamu yang sabar ya... ayah kamu baik-baik saja kok..kita serahkan kepada Tuhan saja...” Kata tetangga yang membantu Rafli membawa ayahnya ke Rumah sakit
 “Pak...saya tidak mau kehilangan ayah saya…”
“ Tap ini mungkin sudah rencana Tuhan dek…ayah kamu pasti baik-baik saja kok”  kata tetangga itu sambil memeluk Rafli.
“Makasih ya pak”

Julius yang telah tiba di bandara Soekarno Hatta langsung menelepon Rafli.
“Hello, my little brother, is dad okay?” tanya Julius menggunakan bahasa Inggris.
“Ayah masih dirawat kak”
“Baiklah, kamu tungguin kakak disana, kakak baru tiba di Indonesia. Kakak akan segera kesana, Kamu tolong kirim alamat Rumah Sakitnya”.
“Baik kak” 
sambungan telepon diputuskan. Rafli langsung mengirim alamat Rumah Sakit itu menggunakan pesan singkat WhatsApp.

3 Jam kemudian…

“Rafli dimana ayah?” tanya Julius yang telah tiba di Rumah Sakit
“Kak..Ayah kak…”
 “Ayah baik-baik saja kan?” Rafli langsung memeluk kakaknya itu.
“Ayah masih dirawat di ruang UGD kak”.

Tiba-tiba dilihat para suster dan dokter terburu-buru masuk ke ruang UGD.
“Suster, apa yang terjadi?...Ayah saya baik-baik sajakan?” tanya Julius kepada seorang Suster yang hendak masuk ke ruang UGD.
“Kami akan berusaha semaksimal mungkin, Kita hanya berserah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa” jawab suter itu.

Julius dan Rafli langsung duduk seakan tak berdaya.
“Oh Tuhan, tolong selamatkan ayahku”  doa Julius dalam hatinya.

Seorang dokter keluar dari ruang UGD.

“Keluarganya bapak Malvin?” tanya dokter.
“ Ia, kami anaknya. apa yang terjadi dengan ayah saya dokter?.” jawab Julius
“ Kami telah berusaha semaksimal mungkin, namun Tuhan berkehendak lain, Bapak Malvin…telah meninggal dunia”  Julius dan Rafli langsung berlari masuk ke dalam ruang UGD dan menangisi ayah mereka.

            Akhirnya Malvin wafat dan di semayamkan, di Jakarta pada usia 93 tahun, ia meninggal dalam kemiskinan. Sekalipun begitu, dia telah menyumbangkan disepanjang hidupnya kurang-lebih Rp.455.000.000.00 yang dia berikan kepada Yayasan yatim piatu dan sekolah-sekolah di Jakarta untuk menolong kurang lebih 3 juta, anak-anak miskin. Setelah beberapa bulan, Rafli sedang membersihkan rumah mereka, Ia melihat kotak simpanan ayahnya. ketika itu Rafli langsung membersihkannya. Dan mengingat akan pesan ayahnya itu. Rafli membawa kotak itu kepada kakaknya, Dan mengatakan bahwa sebelum ayah mereka meninggal, Ayah mereka berpesan untuk memberikan hasil tabungan terakhir ayah mereka untuk di sumbangkan kepada yayasan anak yatim piatu yang ada di Jakarta.
            Saat  itu, Julius dan Rafli langsung mengantarkan kotak penyimpanan uang itu di Yayasan tersebut. dan setibanya disana, Julius melihat kondisi bangunan Yayasan ini buruk. sehingga Juliuspun ingin merenovasi bangunan yayasan tersebut. Setelah 2 tahun direnovasi, keadaan yayasan itupun bertambah indah. Kini yayasan itu mengganti nama Yayasan itu menjdi “Yayasan Anugerah Malvin” sebagai penghargaan kepada Malvin.
            Mulai sejak itu banyak orang datang untuk membantu anak-anak yatim dan piatu. Bahkan dijalanan anak-anak yang dulunya tidak bersekolah kini diperhatikan oleh pemerintah.