“PANGGILAN SEORANG GURU PAK”
Ini adalah kisah
nyata yang
tiba-tiba terbayang
ketika suatu malam yang
larut, sebuah kisah yang mengharukan
bagi seorang perantau. dan ia menyadari bahwa ini semua anugerah yang
diberikan Tuhan dalam hidupnya. Walaupun begitu banyak ujian dan tantangan yang
ia hadapi, namun ia percaya semuanya akan indah pada waktunya .
Hans Prawira Anggara Taliak, itulah nama lengkapnya,
biasanya ia dipanggil “Hans” ia adalah anak sulung dari Demianus Taliak
(ayahnya) dan Sri Taliak (ibunya). Lahir di Sidorejo, 10 Mei 2001. Terlahir
dari keluarga yang sederhana namun harmonis. Sejak kecil ia bermimpi menjadi
seorang pendeta. Mereka tinggal disebuah desa yang cukup ramai di daerah kepulauan Babar, Maluku Barat Daya. Ia
mempunyai tiga orang adik, dua orang pria, adik yang pertama berumur 8 tahun,
adik yang kedau berumur 7 tahun dan satu adik wanita yang baru berumur 11
bulan. Dia adalah seorang siswa SMP yang
bersekolah disalah satu sekolah negeri dan dia juga adalah seorang yang
dipercayakan untuk melayani di gereja mereka.
Ayahnya sudah meninggal sejak empat tahun lalu
tepatnya pada tanggal 29 Maret 2014. Sejak saat itu ia hilang harapan, putus
asa, setiap malam sejak ayahnya meninggal, ia selalu menangis dikamar tanpa
suara, karena merasa kehilangan akan sosok yang ia sangat sayangi. Bagi Hans,
ayahnya adalah seorang yang sangat ia segani dan ia cintai. Ayahnya meninggal
karena kecelakaan, saat itu sebelum ayahnya meninggal, ayahnya seharian tidak
tinggal dirumah karena dikebun seharian, sedangkan pada sore harinya akan ibadah
keluarga dirumah mereka. Pada hari itu karena ayahnya tidak ada dirumah, Hans
mempersiapkan segala sesuatu untuk ibadah pada sore hari. Ia membersihkan
rumah, halaman dan mempersiapkan apa saja
yang dibutuhkan dalam peribadahan itu. Sedangkan ibunya sibuk memasak
untuk jamuan kasih nantinya seusai ibadah. Didalam hati Hans ia merasa begitu kesal
karena tidak ada yang membantunya untuk mempersiapkan ibadah keluarga itu. Tiba
saatnya satu jam ibadah akan mulai, Hans mulai mengurusi adik-adiknya untuk mandi
supaya mereka beribadah, sedangkan ayahnya belum kunjung datang. Seusai ia
mengurusi adik-adiknya mandi, tidak lama kemudian ayahnya datang dengan keadaan
kotor setelah seharian di kebun. Saat itu Hans merasa ada yang aneh dengan
penampilan dan gerak-gerik ayahnya. Hans melihat tidak biasanya kalau ayahnya
pulang dari kebun langsung menggendong dan mencium adik perempuannya yang
bungsu berulang-ulang kali, setelah itu bukannya mandi dan bersiap-siap untuk
beribadah malahan ayahnya tidur dengan keadaan tengkurap di tempat tidur
diluar. Akhirnya ibunya Hans membangunkan ayahnya dan menyarankan agar segera
mandi karena akan ibadah dirumah mereka.
Tidak lama kemudian terdengar suara sapaan dari depan
rumah “Syaloom..” ternyata sudah ada
jemaat yang datang untuk beribadah. Tidak lama kemudian satu per satu jemaat
mulai berdatangan untuk beribadah. Setelah bapak dan ibu gembala tiba, akhirnya ibadahpun
dimulai, namun karena kursi untuk jemaat kekurangan akhirnya Hans dan adik serta
ayahnya meminjam kursi dirumah tetangga mereka. Setelah itu setelah ibadahnya
usai kira-kira pukul 18: 30 WIT, jemaatpun mulai satu per satu kembali kerumah
mereka masing-masing, Hans pun mulai membersihkan kembali rumahnya dan
mengembalikan kursi milik tetangga yang dipinjam. Namun ayah Hans pergi kerumah
salah seorang keluarga mereka. Saat Hans dan ibunya serta adik-adiknya sedang
menonton TV kira-kira pukul 20:00 WIT, tiba-tiba datanglah seorang tetangga
berlari dengan rasa panik dan takut sambil memanggil nama ibunya Hans, membawa
informasi bahwa ayah Hans kesetrum karena memegang mic dan jatuh pingsan. Ibu
Hans tanpa melihat keadaan sekitar ia berlari ke tempat kejadian.
Hans tidak dapat pergi ke tempat kejadian karena adik
bungsunya yang sudah terlebih dahulu tidur sehingga ia harus menjaganya, Hans
tidak dapat berbuat apa-apa, saat itu Hans hanya berdoa dengan memohon kepada
Tuhan supaya tidak terjadi sesuatu yang buruk terjadi pada ayahnya. tidak lama
kemudian terdengar sirene ambulans berbunyi dari kejauahan, ternyata ambulans
itu sedang datang ke tempat kejadian dimana ayahnya Hans kesetrum. Tidak lama
kemudian ada seorang tetangga yang datang dan menjaga adiknya Hans, sehingga
Hans pun berlari ke rumah sakit, rumah sakit itu tidak terlalu jauh dari
rumahnya Hans, kurang lebih 1 Km dari
rumahnya.
Setibanya dirumah sakit tedengar suara tangisan dari
begitu banyak orang termasuk ibunya, ketika Hans masuk langsung ibunya memeluk
Hans sambil menangis dan mengatakan kepada Hans bahwa ayahnya sudah tiada.
Ketika Hans mendengar kata itu, Hans pun menangis dan tidak menerima atas apa
yang terjadi pada saat itu, menurut Hans itu tidak mungkin terjadi karena
ayanhya sehat-sehat saja, tidak mungkin hanya dengan memegang mic dapat
merenggut nyawa ayahnya. Setelah itu tidak lama datanglah seorang dokter untuk
memberitahukan kepada ibunya Hans bahwa dari hasil otopsi tidak ada sakit
penyakit yang membuat hal ini terjadi, misalnya penyakit yang dicurigai adalah
penyakit jantung,karena tidak ditemukan gejala-gejala penyakit jantung tersebut.
Setelah itu dari pihak keluarga meminta agar tubuh ayah Hans dapat dibawa
pulang kembali kerumah. Tidak lama kemudian datanglah beberapa petugas rumah
sakit datang dan membawa tubuh ayahnya Hans masuk kedalam ambulans dan diantar
pulang ke rumah mereka, setelah tiba dirumah begitu banyak orang yang
mengerumuni rumah mereka. Setelah itu mereka membawa masuk tubuh ayah Hans
kedalam rumah dan dimasukan kekamar.
Saat itu Hans
belum makan, sehingga datanglah bapak gembala mereka dan seorang saudara sepupu perempuan Hans yang datang
untuk membujuk Hans makan agar ia tidak sakit, namun Hans menolaknya. Saat itu
Hans hanya ingin dekat ayahnya yang sudah tiada itu, hanya air mata yang ia
keluarkan, namun dalam hatinya sangat marah kepada Tuhan. Sejak kejadian itu
Hans begitu marah dan mempersalahkan Tuhan atas kejadian yang menimpa ayahnya
itu, dia berkata dalam hatinya “kenapa
harus ayahnya, kenapa bukan dia saja”. Ayah Hans meninggal disaat diamana
ulang tahun pertama dari adik bungsunya sudah sangat dekat, namun ayahnya sudah
tiada. Bahkan karena rasa kecewanya itu, dalam hatinya ia berkata bahwa, ia
tidak mau lagi melayani digereja mereka. Namun setelah dua minggu ada seorang
pendeta yang datang dari kota Ambon untuk memberi pengajaran tentang tata cara
ibadah yang benar. Saat itu Hans hadir dan usai dari beribadahan itu, pendeta
ini mengadakan altar call, Hans pun maju, dia menyampaikan apa yang merupakan
keluh kesah dalam hatinya.
Saat didoakan Hans merasa bahwa ada seseorang yang
berbisik dalam hatinya mengatakan
“Aku akan memakai kamu”. Hans
meresponi akan suara itu Hans berkata “Tuhan jika itu Engkau yang berkata-kata
kepadaku, pakailah aku sesuai kehendak-Mu”. Mulai saat itu Hans berkomitmen
bahwa ia ingin agar hidupnya menjadi seorang hamba Tuhan. Dan Hans mohon ampun
akan dosa yang telah ia perbuat yakni mempersalahkan Tuhan. Hans memulai kehidupannya tanpa sosok seorang ayah. Hans
kemudian mulai perlahan mendekatkan dirinya kepada Tuhan.
Hans biasanya bagun dipagi hari pukul 5: 00 WIT,
sebelum ia melakukan aktivitasnya ia biasanya berdoa, bersyukur kepada Tuhan
dan meminta perlindungan dari Tuhan. Setelah itu Hans membantu ibunya didapur,
biasanya dia hanya mengisi air di bak mandi untuk adik-adiknya nanti mandi dan
kesekolah, setelah itu ia sarapan pagi dan mandi, sehabis Hans mandi ia
langsung berangkat kesekolah. Hans bersekolah di sekolah negeri di desanya.
Disekolah teman-temannya datang menghampiri dia dan menguatkan dia supaya Hans
tidak menyerah dan putus asa.
Hari demi hari,
minggu demi minggu, bulan demi bulan, Hans melakukan aktivitasnya seperti biasa.
Suatu hari masuklah seorang guru dan bertanya “siapa disisni yang punya cita-cita ? tolong sampaikan kepada saya” mulailah
satu per satu siswa menjawabnya. Namun ketika
sampai kepada giliran Hans dimulutnya berkata bahwa “cita-cita saya ingin menjadi pendeta” namun dalam pikirannya ia
sedang memikirkan bagaimana masa cita-citanya akan tercapai kalau orang tuanya
tidak mampu menyekolahkannya lagi? Ditambah hanya ibunya seorang diri. Hans
memang memiliki keluarga besar, namun Hans dan ibunya tidak mau membebani
keluarga mereka yang lain. Sejak saat
guru itu bertanya Hans memikirkan apa selanjutnya yang akan dilakukannya nanti
ketika ia sudah tamat SMA. Setiap malam ia berdoa kepada Tuhan agar membuka
jalan baginya. Setelah dia duduk dikelas 2 SMA, datanglah seorang ibu gembala
dari kota Ambon yang menawarkan kepada Hans, apakah dia mau setelah tamat SMA
dia mau bersekolah di kota Ambon dengan mengambil jurusan kesehatan ?. namun
Hans masih ragu-ragu untuk menjawab, karena bukan itu yang dia cita-citakan.
Setelah melewati beberapa bulan didengar kabar bahwa pemerintah sedang membuka
sekolah pertambangan minyak gratis bagi siswa yang berprestasi, Hans ketika
mendengar kabar itu ia tertarik untuk mengikuti tes sekolah itu nanti sesudah
ia tamat. Namun pada saat Ujian Nasional sudah dekat, Hans kembali ditawarkan
oleh gembala mereka, tentang sekolah gratis milik bapak Jakob Nahuwai yang
berada di Lampung.
Hans pun kembali
diperhadapkan dengan pilihan yang menurut dia begitu berat untuk
mengambil keputusan ini. Suatu malam ketika Hans hendak akan tidur, Hans tidak
dapat tidur dengan pulas karena didalam hatinya timbul pertentangan untuk
mengambil keputusan ini. Bahkan satu malam suntuk ia tidak dapat tidur. Yang
ada di dalam hati Hans hanyalah nama Sekolah Tinggi Mawar Saron Lampung.
Sehingga ia mengambil keputusan pada malam itu untuk nantinya ia bersekolah
di Sekolah Tinggi Mawar Saron Lampung,
setelah ia tamat.
Namun, mungkin karena kepergiaan ayahnya dan frustasi,
prestasi Hans menurun dari saat itu. Pada kelas 1 SMA, Hans meraih juara
pertama dikelas mereka, lalu menurun pada kelas 2 SMA, Hans meraih juara kedua
dikelas mereka, dan juara ketiga pada kelas 3 SMA. Prestasi itu terus menurun
sampai kepada Ujian Nasional, Disaat Hans menerima hasil ujiannya dimana
Hans tidak lulus untuk mata
pelajaran Bahasa Inggris, karena nilainya hanya 5. 0. Rasa kecewa akan nilainya
itu, Hans tidak mau melanjutkan sekolah
yang lebih tinggi lagi. Namun ibunya terus memberi dukungan kepadanya, ibunya
menyemangati Hans dengan Firman Tuhan yang terambil dari Kitab Yeremia 29
:11-12 yang mengatakan “Sebab, Aku
mengetahui rencana-rencana yang Aku miliki bagi kamu,’ firman TUHAN,
‘rencana-rencana untuk kesejahteraan dan bukan untuk kemalanganmu, untuk
memberimu masa depan dan pengharapan. Kamu akan berseru kepada-Ku dan datang
dan berdoa kepada-Ku, dan Aku akan mendengarkan kamu”. Bahkan
seringkali Hans mendengar doa-doa yang
dilantunkan ibunya disaat akan tidur, pasti namanya disebut. Doa itu meminta
kepada Tuhan agar memberikan masa depan yang gemilang bagi anak-anaknya. Hans
ketika mendengar doa-doa itu, air matanya selalu mengalir. Hans sangat
bersyukur memiliki orang tua yang sangat memperhatikan dirinya.
Ibu Hans seringkali menasihatinya bahwa semua yang
dilakukan Tuhan, terkadang kita manusia tidak menerimanya, namun semua yang
dilakukan Tuhan itu indah pada waktunya. Ibu Hans mengajarkan kepada Hans dan
adik-adiknya bahwa hidup ini hanya sementara, lakukanlah yang terbaik bukan
untuk dilihat orang, tetapi satu kerinduan yang harus ditanam didalam hati
untuk melayani Tuhan sebagai rasa hormat kita kepadaNya, bukan hanya digereja
tetapi dimanapun kita berada. Akhirnya semangat Hans lambat laun kembali tumbuh
didalam hatinya. Hans merasa ibunya begitu tangguh menghadapi semua ujian,
masalah, yang diberikan Tuhan dalam kehidupan mereka.
Pada bulan Mei tepatnya pada hari ulang tahunnya, Hans
tidak menyangka akan ada perayaan yang begitu meriah untuk dirinya. Saat ulang
tahunnya, teman-temannya mempersiapkan segala
sesuatu untuk merayakan ulang tahunnya. Begitu pula para pelayan dan
pemuda gereja, mempersiapkan hari ulang tahun Hans tanpa sepengetahuan Hans.
Namun ibunya sydah mengetahuinya. Saat pada malam hari, ibu Hans mengajak Hans
untuk berbelanja di Mal. Sedang dirumah
mereka, teman-teman Hans dan para pelayan sedang mempersiapkan kejutang untuk
Hans. Ketika Hans dan ibunya pulang dari Mal, ketika satpam membukakan pintu
pagar mereka, Hans merasa ada sesuatu yang berbeda karena kelihatan suasana
dirumah begitu sepi dan lampu yang dipadamkan.
Didalam pikiran
Hans memikirkan, mengapa ibunya tidak mengucapkan selamat ulang tahun pada
dirinya. Ketika Hans membukakan pintu rumah mereka tiba-tiba, tepung terigu mengguyuri
seluruh tubuhnya, lampu dinyalakan dan yang dilihatnya adalah semua teman-temannya,
dan para pelayan di gereja mereka. Sambil ketawa terbahak-bahak karena melihat
Hans yang telah mandi tepung terigu mereka menyanyikan lagu “selamat ulang
tahun” baginya. Hans begitu merasa sangat bahagia, karena sejak dari umur 7
tahun Hans tidak lagi merayakan ulang tahunnya sampai ia berulang tahun yang
ke-16 barulah ia merayakannya lagi. Setelah itu mereka menjabat tangan Hans dan
mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Ucapan syukur tak putus-putus didalam
hatinya, hanya tawa dan air mata kebahagiaan yang dia keluarkan saat itu. Hans
bersyukur atas kebaikan Tuhan sehingga ia bisa bertambah setahun usia. Lalu
mereka mengucap syukur pada saat itu bersama-sama.
Seminggu kemudian Hans harus keluar kota untuk
mengurus seluruh keperluannya untuk nanti mempermudah dia saat kuliah. Disaat
dia mempersiapkan seluruh keperluannya
ia diperhadapkan dengan satu masalah, dikarenakan didaerah mereka hanya
jalur tranportasi laut yang paling sangat memungkinkan untuk melakukan
perjalanan karena dari kampungnya menuju kota kabupaten harus menggunakan kapal
laut dan memakan satu hari perjalanan. Ditambah lagi dimana disaat dia akan
kembali kekampung halamannya, uang untuk transportasinya kurang. Hans pada saat
itu hanya memiliki Rp. 100. 000 ditangannya, sedangkan perjalanan kembali ke
kampungnya memakan waktu satu hari, dan uang yang ia miliki tidak cukup untuk
tiket dan uang makannya saat nantinnya. Ia hanya bisa berdoa kepada Tuhan agar
membuka jalan keluarnya. Tiba-tiba
teleponnya berdering, Hans mengangkat telepon itu, ternyata ibunya yang
meneleponnya, Hans memberitahu apa kendala yang terjadi. Ibu Hans langsung
memberitahu Hans bahwa disana ada keluarga mereka, jadi dia bisa pergi kesana,
ternyata sebelum Hans kerumah keluarga yang dimaksud ada seorang bapak yang datang ia mengaku kalau ia adalah
keluarga mereka. Hans pertama-tama tidak mempercayai karena dia takut. Tidak
lama kemudian telepon Hans berdering kembali , ternyata itu adalaah ibu Hans,
ia memberitahu kalau nanti ada seorang
bapak yang datang menjemput Hans.
Kemudian Hans pun
mempercayai bapak ini, dan kemudian Hans dibawa kerumah bapak ini.
Setiba mereka disana diajak untuk makan, seusai makan bapak ini memberikan
sejumlah uang untuk Hans, ia memberikan uang kepada Hans Rp.300.000 Hans begitu
berterima kasih kepada bapak ini. Kemudian Hans diantarakan kembali ke
pelabuhan untuk segera berangkat.
Ketika Hans berada dalam kapal itu, saat hendak
petugas kapal berkeliling untuk menagih tiket kapal, ternyata mereka tidak
meminta kepada Hans. Uang yang seharusnya ia gunakan untuk membayar tiket
tersebut utuh dalam kantongnya. Hans sangat bersyukur kepada Tuhan, setibanya
di kampung halamannya ia beristirahat satu minggu, kemudian ia mempersiapkan
seluruh kebutuhannya saat nantinya digunakan di perkuliahan. Setelah seminggu
Hans bersama bapak gembalanya berangkat dari kampung halamannya menuju kota
Saumlaki. Setiba dikota Saumlaki, mereka membeli tiket pesawat untuk berangkat
menuju kota Ambon. Namun ketika saat membeli tiket pesaawat ternyata harga
tiket saat itu sedang melonjak, harga tiket pada saat itu berkisar antara Rp.
1. 800.000 - 2. 000.000. Hans tidak memiliki uang sebanyak itu, namun Hans
berkeputusan untuk berdoa kepada Tuhan, setelah satu minggu di kota Saumlaki, ternyata ada seorang ibu
yang memberikan bantuan kepada, ia mentransferkan uang di rekening Hans dengan
jumlah yang besar. Ibu itu memntransfer sebesar Rp. 4.000.000, Hans sangat
bersyukur kepada Tuhan atas berkat yang dia sediakan kepadanya. Setelah
menerima uang itu, Hans memberikan uang itu kepada bapak gembalanya. Tiket pun
dibeli dan akhirnya keesokan harinya mereka berangkat dari kota Saumlaki menuju
kota Ambon. Sebelum masuk kedalam ruang chek in, ibu Hans berpesan kepadanya agar
ia selalu mengandalkan Tuhan didalam kehidupannya dan jangan pernah menyerah
untuk menggapai impiannya, setelah itu
Hans masuk kedalam ruang chek in dan kemudian setelah menunggu beberapa
saat, pemberitahuan dari pihak bandara untuk para penumpang bersiap-siap menuju
pesawat. Kurang lebih 1 jam perjalanan akhirnya tibalah mereka di kota Ambon,
ibu kota provinsi Maluku. Mereka naik taksi dari bandara Pattimura menuju
kerumah.
Setelah seminggu dikota Ambon, kini Hans harus
melanjutkan perjalanannya menuju kota Jakarta, Hans merasa sangat bersyukur
karena uang tiket dari kota Ambon menuju kota Jakarta sudah dibiayai oleh donatur
kampus tersebut. Akhirnya pada 30 juni 2018 Hans berangkat dari kota Ambon
menuju Jakarta bersama-sama dengan 5 orang teman lainnya yang juga berasal dari
Maluku. Kurang lebih 3 jam perjalanan tibalah rombongan team Maluku di Jakarta,
ketika mereka tiba di Jakarta mereka tidak langsung menuju kampus, karena ada
pemberitahuan bahwa masih menunggu team-team lainnya dari beberapa Provinsi
lainnya. Tidak lama kemudian datanglah team dari Nuas Tenggara Timur, kemudian
disusul dari Nias, Papua, Sulawesi, dan juga Manado. Mereka semua kelihatan
belum karab satu sama lainnya, mereka kemudian
diantar ke sebuah gereja yang merupakan donatur kampus yang akan Hans
dan teman-temannya bersekolah disitu. Setiba di gereja itu mereka kemudian
diantar menuju satu ruangan kecil, biasanya ruangan itu disebut ruang Mandarin.
Mereka kemudian bertemu dengan pemimpin dari kampus dan gereja itu, beliau
bernama bpk. Jacob. Nahuwai. Beliau memberikan nasihat, semangat untuk mereka
semua agar mereka menyadari akan panggilan mereka. Setelah satu miggu dikota
Jakarta mereka diberitahukan bahwa akan menuju ke Lampung yang merupakan letak
kampus itu berada. Hans pertama berpikir bahwa perjalanan menuju ke Lampung ini
hanyalah satu ataupun dua jam saja, ternyata setelah diberitahukan, ternyata
bahwa perjalanan menuju ke Lampung itu memakan waktu hingga 12 jam. Hari itu
hari minggu, perjalanan rombongan calon mahasiswa ini berangkat dari Jakarta
menuju Lampung pada pukul 21:00 WIB. Setelah kira-kira 1 atau 2 jam mereka tiba
di pelabuhan Merak menuju pelabuhan Bakhueni, untuk menyeberang menggunakan
kapal ferry. Hans dan para rombongan lainnya mungkin karena merasa kelelahan,
mereka tidur didalam bis, setelah fajar menyingsing mereka sadar dan ketika
melihat keluar jendela, pemandangan yang indah dengan tumbuhan singkong yang
mendominan. Mereka semua terkejut teman
yang satu mulai berkata kepada teman yang lainya, “kok keadaannya seperti ini? ini kelihatannya seperti menuju kesebuah
kampung” Hans hanya terdiam disandaran tempat duduk bis sambil melihat
pemandangan yang belum ia lihat, karena dalam hati Hans sedang membayangkan
keadaan kampus yang terletak di daerah
seperti ini. Setelah beberapa jam kemudian rombongan calon mahasiswa ini tiba
di kampus yang mereka tujui. Nama kampus itu adalah Sekolah Tinggi Teologia
Mawar Saron, Lampung. Setelah itu mereka diantarkan menuju ruang aula yang
dimiliki kampus itu, mereka berdoa dan setelah itu menuju ruang makan dan
mereka semua makan siang.
Setelah beberapa saat kemudian, datanglah beberapa
tentara dengan berpakaian lengkap. Ternyata merekalah yang nantinya akan melatih
dan membina para calon mahasiswa dalam kegiatan bela negara. Setelah usai
upacara pembukaan kegiatan bela negara, Tiba-tiba mereka langsung menyuruh para
calon mahasiswa ini push up, karena
dengan nada suara yang keras dan kasar semuanya mengikuti perintah dari para
tentara ini. Kegiatan bela negara pun dimulai dan diisi dengan
kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk disiplin, dan saling menghargai satu
sama lain. Setelah satu minggu kegiatan bela negara, mereka semua dipersiapakan
untuk kuliah nantinya pada hari selasa.
Ketika perkuliahan mulai dijalankan, Hans masih belum
bisa membabaur dengan teman-teman lainnya yang berasal dari berbagai macam
daerah ini. Setelah hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, Hans
pun mulai bisa menikmati keadaan di kampus ini. Hans mulai menyadari
perlahan-lahan maksud Tuhan menempatkan dirinya di kampus itu. Semangat Hans
pun mulai membara didalam hatinya ia berkomitmen bahwa “apapun yang terjadi padanya ia akan berusaha untuk menjadi lebih baik
dan terbaik dan menyerahkan semua kehidupannya pada tangan Tuhan dan memiliki
kerinduan untuk tetap menyenangkan hati Tuhan. Seperti yang dikatakan didalam
Mazmur 1:2-3 “tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan
Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air,
yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja
yang diperbuatnya berhasil.
Hans begitu mensyukuri akan anugerah yang Tuhan
berikan padanya, kini Hans sedang berjuang dalam pendidikannya di Sekolah
Tinggi Teologia Mawar Saron, Lampung. Ia bercita-cita setelah dia tamat dari
STT itu, ia kembali ke daerahnya dengan membawa sebuah perubahan dan menjadi
dampak yang baik bagi masyarkat didaerahnnya dan terus memilki kerinduan untuk
menyenangkan hati Tuhan dan melayani-Nya sebagai pengabdianya kepada Tuhan,
seperti yang dikatakan dalam 2 Petrus 5: 2 “Gembalakanlah
kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan
sukarela sesuai dengan kehendak Allah, dan jangan karena mau mencari
keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri”.
“DARI CERITA INI MENCERITAKAN SEORANG ANAK YANG
DIPERHADAPKAN DENGAN DENGAN BERBAGAI RINTANGAN, TANTANGAN DAN UJIAN. DAN DISAAT
DIA PUTUS ASA, HILANG HARAPAN, TANGAN TUHAN KEMBALI MENGANGKAT DIA SECARA
PERLAHAN-LAHAN UNTUK PEKERJAAN-NYA DITENGAH-TENGAH DUNIA INI.
Pesan
dari cerita ini:
“HAL-HAL
BESAR selalu itu dimulai DARI DALAM.
TUHAN
tidak pernah menjanjikan bahwa langit itu selalu biru, Bunga selalu mekar, dan
Mentari selalu bersinar.Tapi ketahuilah bahwa DIA selalu memberi pelangi di
setiap badai, Senyum di setiap air mata, Berkah di setiap ujian, dan jawaban di
setiap doa. Jangan pernah menyerah, Terus berjuanglah ,“Life is so beautiful”.
•Hidup
bukanlah suatu tujuan, melainkan perjalanan maka nikmatilah.
•Hidup
adalah tantangan, hadapilah.
•Hidup
adalah anugerah, terimalah.
•Hidup
adalah pertandingan, menangkanlah.
•Hidup
adalah tugas, selesaikanlah.
•Hidup
adalah cita-cita, capailah.
•Hidup
adalah misteri, singkapkanlah.
•Hidup
adalah kesempatan, ambillah.
•Hidup
adalah keindahan,bersyukurlah.
·
Mazmur 55:23
“Serahkanlah kuatirmu kepada TUHAN, maka Ia akan memelihara engkau! Tidak untuk selama-lamanya dibiarkan-Nya orang benar itu goyah.
“Serahkanlah kuatirmu kepada TUHAN, maka Ia akan memelihara engkau! Tidak untuk selama-lamanya dibiarkan-Nya orang benar itu goyah.
·
Matius 6:25-32
"Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya? Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal, namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannyapun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya? Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu.”
"Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya? Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal, namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannyapun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya? Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu.”
“THANK YOU, GOD BLESS YOU”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar